Oleh: Asep Sapa’at, Trainer Pendidikan dan Peneliti

Lembaga Pengembangan Insani Dompet Dhuafa Republika

”The most powerful way to develop creativity in your students is to be a role model. Children develop creativity not when you tell them to, but when you show them.”

(Robert J. Sternberg)

”Pemain yang hebat tidak pernah memandang dirinya di kaca dan berpikir, ’Saya pemain hebat,’” kata Jordan. ”Sebaliknya, dia akan bertanya kepada dirinya, ”Benarkah saya pemain hebat?” Michael Jordan, sosok pahlawan bagi para penggemarnya, sosok pemimpin bagi seluruh rekan setimnya di Chicago Bulls, dan sosok teladan di mata istri dan anak-anaknya. Glamor dunia basket di Amerika Serikat maupun dunia merupakan saksi kehebatan seorang anak manusia yang berhasil menorehkan tinta emas sejarah yang tak tergantikan. Dua resep sukses hidup dari Michael Jordan, komitmen terhadap kualitas prestasi hidup dan komitmen untuk melakukan perbaikan secara kontinu.

Bagaimana pula dengan sosok sang pahlawan tanpa tanda jasa, apakah mereka juga sering mempertanyakan kualitas kapasitas diri mereka? Bertanya, berefleksi, dan beraksi memperbaiki kualitas personal dan kualitas profesionalismenya adalah syarat perlu hadirnya profil guru masa depan di dunia pendidikan kita.

Tantangan dunia pendidikan di masa depan semakin berat. Guru sebagai salah satu bagian penting dari pendidikan, harus mampu menjadi manusia pembelajar yang cerdas dan kreatif. Guru akan menjadi cerdas jika mereka mampu mengakses seluruh sumber ilmu pengetahuan dari buku, lingkungan sekitar, internet, media masa, dan puspa ragam sumber ilmu pengetahuan lainnya.

Kemudian, berpikir terbuka dalam merespon perubahan yang terjadi, beradaptasi dengan perkembangan pendidikan yang terjadi, dan mampu mengoptimalkan sumber daya yang ada menjadi sebuah inovasi baru di dunia pendidikan adalah beberapa ciri penting guru kreatif.

Kabar buruknya, tidak mudah bagi seorang guru dapat menjadi cerdas dan kreatif. B.S. Mariatmadja (2004) menyatakan bahwa dalam konteks persekolahan sekarang, guru diminta untuk masih memegang peran sebagai orang bijak dan cerdas. Namun, lingkungan tidak selalu mengizinkan guru untuk menjadi cerdas dan kreatif. Ada 5 problem untuk menjadi guru cerdas dan kreatif, yaitu:

  1. Guru kerap harus mengerjakan tugas-tugas administratif yang memustahilkan ia membaca untuk menjadi lebih cerdas.
  2. Guru kerap harus mengikuti banyak acara pemerintahan sehingga tidak sempat dan menjadi cukup waktu mendampingi murid untuk menolong proses pencerdasan mereka.
  3. Guru sering tidak dapat mengembangkan kecerdasan karena pegangan dari ’departemen’ sedemikian kaku, sehingga waktu termakan habis untuk menghidangkan bahan kurikulum.
  4. Guru kadang kala sulit mengembangkan kreativitasnya dalam konteks profesinya karena kehabisan waktu untuk mencari nafkah lewat jalur di luar keguruan.
  5. Guru sulit menjadi kreatif karena kita telah melewati suatu masa yang cukup panjang, dimana guru berasal dari lapisan kedua dari murid yang cerdas. Banyak murid cerdas 10 – 25 tahun yang lalu tidak mau menjadi guru. Sekarang kita malah tidak memiliki pendidikan yang secara khusus dan tepat guna mendidik guru dalam arti kebijakan. Implikasinya, guru menjadi jalur karir, bukan panggilan hidup. Padahal guru tidak semata-mata suatu pekerjaan yang membutuhkan ijazah, tetapi hati. Pekerjaan guru membutuhkan relasi hati.

Menjadi Guru Cerdas & Kreatif, Sebuah Pilihan

Ada kabar gembira bagi guru yang ingin lebih cerdas dan kreatif, yaitu

  1. setiap orang adalah kreatif,
  2. kreativitas dibawa sejak lahir,
  3. setiap orang dapat belajar menjadi kreatif, dan
  4. kreativitas dapat dikembangkan melalui proses pendidikan.

Kuncinya ada pada komitmen untuk menjaga kualitas prestasi hidup dan konsisten dalam memperbaiki diri agar lebih baik. Ada beberapa pilihan sikap yang dapat dikembangkan agar guru dapat menjadi lebih cerdas dan kreatif. Pertama, memiliki rasa ingin tahu. Semangat bertanya untuk menambah khasanah pengetahuan yang dimilikinya pada saat ini merupakan jendela pembuka diri dalam menelaah sumber-sumber informasi yang ada di lingkungan sekitar.

Kedua, berpikir positif dan optimis dalam menghadapi masalah. Challenge of change, memandang masalah sebagai tantangan untuk mengubah diri, bukan merupakan beban dalam hidup.

Ketiga, mau dan mampu menghargai kritik dari orang lain sebagai jembatan loncatan hidup yang lebih prestatif.

Keempat, berani bereksplorasi kreatif, misal, menggunakan metode pembelajaran yang variatif, menggunakan barang-barang bekas sebagai media pembelajaran tepat guna, dan ekplorasi kreatif lainnya yang mampu menginspirasi para siswa untuk menjadi insan kreatif juga.

Petuah bijak menyatakan, membutuhkan waktu 20 tahun untuk membangun reputasi baik, dan hanya membutuhkan waktu 10 detik untuk menghancurkannya. Bangunlah reputasi baik sebagai guru cerdas dan kreatif, sebuah kontribusi nyata menyiapkan generasi masa depan bangsa yang lebih baik.

Selamat menjadi guru cerdas dan kreatif.