Oktober 2007


Oleh : Ahmad Fikri, Trainer Makmal Pendidikan

Membaca dari berbagai komentar di beberapa blog pendidikan termasuk di blog ini serta dialog dengan beberapa rekan guru dari berbagai daerah, menyatakan bahwa telah terjadi penyimpangan dalam pelaksanaan sertifkasi guru. Tak kurang Koordinator Education Watch pun unjuk bicara mengamini fenomena tersebut (Koran Tempo, 27/09/07). Satya Sandhatrisa Gunatmika dalam tulisannya pada harian tersebut menyatakan bahwa telah terjadinya praktek kecurangan kolektif yang dilakukan oleh para guru. Selain itu, banyak kasus kolusi dalam penentuan guru yang akan mengikuti ujian seleksi sertifikasi. Dinyatakan pula beberapa “permakluman” atas tindak kecurangan tersebut diakibatkan oleh keinginan yang kuat dari para guru untuk lulus dalam ujian sertifikasi lantaran syarat pengumpulan poin penilaian sangat berat dan tidak mungkin dicapai oleh para guru senior yang sibuk dengan urusan rumah tangga dan kegiatan belajar-mengajar.

(lebih…)

Oleh: Satya Sandhatrisa Gunatmika

 

Koran Tempo (27/9) Program sertifikasi guru sebagai syarat bagi guru memperoleh tunjangan sebesar satu kali gaji pokok telah berlangsung di berbagai daerah. Penyelenggara ujian sertifikasi adalah Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan atau perguruan tinggi yang ditunjuk oleh Departemen Pendidikan Nasional karena memiliki kelayakan dalam menguji standar kompetensi para guru.

Target Departemen Pendidikan Nasional untuk 2007, ada 450 ribu guru di seluruh wilayah di Indonesia yang akan mengikuti ujian sertifikasi. Syarat-syarat peserta sertifikasi guru didasari masa kerja, golongan kepangkatan, dan tingkat kesarjanaan. Dengan demikian, yang berhak mengikuti ujian sertifikasi rata-rata para guru golongan III-D/IV-A dengan masa kerja minimal 20 tahun.

(lebih…)