Oleh : Asep Sapa’at, Trainer Makmal Pendidikan, LPI – Dompet Dhuafa Republika

 

simulasi1.jpg

Secara umum, prestasi akademik/pendidikan di Sulawesi Tengah terbilang rendah. Menurut data depdiknas, nilai ujian nasional masuk kategori nilai rendah, yaitu 7,18 untuk SMA jurusan IPA; 5,75 jurusan IPS; 6,54 untuk jurusan Bahasa. Begitu pun tingkat SMP, dengan nilai 6,42 pada ujian nasional 2005/2006.

Fakta inilah yang mendorong Makmal Pendidikan Lembaga Pengembangan Insani Dompet Dhuafa Republika berinisiatif membenahi permasalahan pendidikan di Kep. Banggai, melalui cara mendampingi SMA Pertama Mansamat, Kec. Tinangkung Selatan, di Kepulauan Banggai, Sulawesi Tengah, dan termasuk daerah yang masih tertinggal.

Fokus pendampingan, memotivasi guru membangun sikap pembelajar dalam dirinya, memfasilitasi akses pengembangan profesinya, dan mengembangkan kompetensi profesionalismenya, melalui kegiatan lesson study.

Lesson study sendiri merupakan lab khusus bagi guru SMA Pertama Mansamat, untuk mempraktikkan semua ilmu yang didapat dari kegiatan pelatihan guru yang ditampilkan dalam situasi mengajar sebagai guru model yang diamati oleh semua rekan sejawatnya.

Dengan tajuk program GURU TULANO (bahasa daerah setempat yang berarti : Kawan Guru. pen). Dua kali sebulan, para guru diminta tampil dalam micro teaching. Setiap guru yang akan tampil, harus menyiapkan rencana pembelajaran dan instrumen lainnya. Juga, rekan-rekan guru lainnya juga ikut hadir saat guru mengajar di muka kelas, mengobservasi kegiatan pembelajaran yang tengah terjadi. Setelah pembelajaran selesai, seluruh guru melakukan refleksi bersama terkait pembelajaran tadi.

“Mulanya gugup dinilai teman-teman. Tapi saya jadi bisa mengevaluasi efektivitas pembelajaran di kelas, dan mengembangkannya lebih baik lagi,” begitu kesan pak guru Suleman Bukasa.

Kini, para guru rekan Suleman Bukasa pun mulai memahami pentingnya kegiatan lesson study bagi pengembangan ‘kompetensi mengajar’ mereka.

Seolah membongkar kelebihan dan kekurangan saat mengajar. Jadi lebih cinta profesi, pengembangan aktualisasi diri, memperkaya khasanah pribadi, jadi lebih kreatif dan variatif dalam pembelajaran, serta membangun kesadaran bersama akan keunikan dan keunggulan setempat.

Mereka pun merasa lebih percaya diri dalam melanjutkan misi hidup menjadi pejuang pendidikan dari Kep. Banggai.

 

Manfaat Lesson Study

PP No. 19/2005 Pasal 19 tentang Standar Nasional Pendidikan menyatakan, “Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai bakat, minat, dan perkembangan fisik, serta psikologis peserta didik.”

Nah, salah satu jawaban untuk tuntutan di atas, adalah dengan lesson study.

Berawal di Jepang, lesson study sudah berkembang sejak tahun 1900an, sebagai upaya untuk mengkaji kegiatan pembelajaran melalui kegiatan perencanaan dan observasi bersama untuk meningkatkan kualitas pembelajaran itu sendiri.

Lesson Study terjemahan dari dua kata, yaitu jugyo (berarti lesson atau pembelajaran), dan kenkyu (berarti study atau pengkajian). Dapat diartikan, sebagai kegiatan pengkajian terhadap pembelajaran.

Yang sangat populer sejak tahun 1960an, dikenal sebagai konaikenshu—(konai yang berarti di sekolah dan kenshu yang berarti training). Jadi, kata konaikenshu dapat dimaknai sebagai school-based in-service training atau in-house workshop.

Coba kita simak pengalman guru di Jepang, berikut ini:

Pengalaman terbaik adalah lesson study memberi peluang untuk merefleksi dan memikirkan kembali cara kita mengajar.” (guru)

“…Persahabatan yang kuat dapat dibangun ketika guru-guru bertemu dan secara sangat serius memikrkan tentang mengajar. Dengan kata lain, lesson study dapat membantu guru-guru mengembangkan persahabatan yang kuat, saya kira sesuatu yang sangat penting bagi semua guru.” (guru)

“…Saya tidak dapat mengatakan bahwa semua sekolah melaksanakan konaikenshu sangat baik bila saya berpikir tentang mutu training. Bagaimana Anda membuat konaikenshu bergantung pada kondisi leadership dan kebersamaan guru-guru di sekolah.” (kepala sekolah)

Mempraktikkan Lesson Study

Tiga fase utama lesson study, meliputi kegiatan persiapan pembelajaran (plan), implementasi (do), dan refleksi pembelajaran (see). Hendayana (2006) menyatakan beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam setiap fase praktik lesson study, yaitu:

 

* Fase persiapan

Lakukan identifikasi masalah kegiatan belajar mengajar, pengembangan rencana pembelajaran yang berpusat pada aktivitasbelajar siswa dengan mengacu pada ketentuan kurikulum yang berlaku dan memperhatikan tingkat kesiapan belajar siswa, pemilihan teaching materials, penerapan strategi pembelajaran tertentu, uji coba model pembelajaran tertentu, dan penetuan siapa guru yang akan tampil pada kesempatan pelaksanaan pembelajaran.

 

* Fase implementasi

Lakukan observasi berfokus interaksi guru-siswa, siswa-siswa, siswa-bahan ajar. Hendaknya observer berpedoman pada pertanyaan-pertanyaan seperti, (1) apakah tujuan pembelajaran jelas? Apakah aktivitas berkontribusi pada pencapaian tujuan pembelajaran?; (2) Apakah langkah pembelajaran berkaitan satu dengan lainnya? Dan siswa paham konsep yang dipelajari?; (3) Apakah bahan ajar telah ditetapkan, dan sesuai tingkat kemampuan siswa?; (4) Apakah diskusi kelas membantu siswa?; (5) Apakah pertanyaan-pertanyaan guru dapat mendorong cara berpikir siswa?; (6) Apakah kesimpulan sesuai dengan tujuan pembelajaran?; dan (7) Bagaimana guru memberi penguatan capaian hasil belajar siswa selama pembelajaran berlangsung?

 

* Fase refleksi

Guru sebagai model menyampaikan kesan-kesannya terhadap pelaksanaan pembelajaran. Setelah itu, seluruh observer yang menghadiri kegiatan pembelajaran diberi kesempatan luas memberi opini dan saran. Refleksi oberver hendaknya bijak, tidak mengkritik destruktif terhdap penampilan guru model, dan berupaya mengkomunikasikan temuan-temuan yang didapatnya dengan mengacu pada pedoman observasi yang telah dibuatnya. Pada akhirnya, nilai utama yang dikandung dari kegiatan refleksi pembelajaran adalah terbangunnya komunitas belajar produktif yang mengedepankan kolegalitas (mutual learning).

 

Membumikan Lesson Study di Banggai

Di awal pendampingan, guru disadarkan arti penting melakukan perubahan diri guna mengikuti perkembangan dunia pendidikan terkini. Membekali guru agar mampu melaksanakan metodologi pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Membangun budaya gemar membaca dan menulis, membuat peta hidup menjadi guru teladan dalam tiga tahun mendatang.

Juga membekali guru dalam penanganan siswa bermasalah, memberikan pemahaman utuh mengenai penggunaan komputer dan internet, dan membangun konsep diri guru yang positif. Semua upaya penyadaran dan pengembangan terhadap kompetensi guru dikemas melalui serangkaian pelatihan.

Dari kegiatan lesson study tersebut, banyak hal-hal penting yang dapat ditindaklanjuti dengan upaya-upaya perbaikan guru-guru SMA Pertama Mansamat, dari miskin ilmu jadi kaya wawasan, dari kondisi terbelakang menjadi yang terdepan/

Lesson study benar-benar menawarkan sebuah kebermaknaan bagi guru-guru yang memiliki jiwa sang pembelajar, better teachers through lesson study.