Oleh : Asep Sapa’at, Trainer Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa

Teachers Guide 06/07 – George Polya, seorang matematikawan kelahiran Hongaria pada tahun 1887 ini dikenal sebagai bapak “pemecahan masalah”. Setelah beliau memperoleh gelar Ph.D pada University of Budapest, beliau mengajar pada Swiss Federal Institute of Technology di Zurich. Pada tahun 1940 beliau mengajar di Brown University United States dan kemudian menjadi staf pengajar di Stanford University pada tahun 1942.
George Polya yang telah mengakhiri kehidupannya pada tahun 1985 ini telah menghasilkan karya-karya yang monumental dengan diwariskannya 250 makalah dan tiga buku yang mengembangkan pendekatan populernya terhadap pemecahan masalah. Buku terkenalnya yang berjudul “How to Solve It” telah diterjemahkan ke dalam 15 bahasa.
Di samping mewariskan karya-karya matematika dengan temuannya seputar dunia mengajar berbasis pemecahan masalah, beliau juga mewariskan “Sepuluh Perintah untuk Mengajar (Ten Commandment for Teachers)” yang seakan menggerakan ingatan saya untuk membuka kembali seluruh file pengalaman mengajar saya selama ini. Tulisan ini merupakan sebuah refleksi dari apa yang telah saya lakukan, apa yang telah saya alami, dan apa yang telah saya berikan kepada anak didik saya selama saya mengajar matematika di ruang kelas.
Perintah pertama mengajar dari Polya untuk para guru adalah intereslah dalam subjek Anda (Be interested in your subject). Bagi saya, hal pertama ini yang akan saya munculkan di awal pertemuan saya bersama anak didik di ruang kelas, membangun hubungan yang positif dengan anak didik. Upaya yang senantiasa saya lakukan dalam konteks ini adalah menceritakan profil diri saya, kemudian mencoba membagi pengalaman hidup saya dan profil orang-orang sukses –referensi dari buku otobiografi yang telah saya baca— kepada anak didik agar mereka dapat sukses dalam menjalani kehidupan mereka sebagai pembelajar yang mandiri. Langkah ini saya lakukan dengan orientasi pada upaya menghilangkan sekat-sekat psikologis yang kontraproduktif antara saya dan anak didik. Saya tidak ingin mereka menganggap saya orang yang paling serba tahu dengan segala hal, saya merupakan sumber informasi utama belajar bagi mereka, dan yang paling tidak saya harapkan adalah terjadinya sebuah situasi dimana anak didik tertutup dengan diri saya karena mereka menganggap “kasta” saya lebih tinggi dibandingkan dengan “kasta” mereka.
Apabila kita sukses membangun hubungan dan komunikasi yang positif di awal pertemuan dengan anak didik, maka peluang kita untuk mengenali mereka sebagai individu menjadi cukup besar. Hal itu berarti bahwa kita telah melaksanakan perintah mengajar kedua dari Polya yang berbunyi, “Kenalilah subjek Anda (Know your subject)”.
“Cobalah untuk membaca muka dari siswa Anda, cobalah untuk melihat harapan dan kesulitan mereka, tempatkanlah diri Anda di tempat mereka (Try to read the face of your students, try to see their expectations and difficulties, put your self in their place).” Perintah mengajar ketiga dari Polya ini mengingatkan saya pada momen spesial ketika saya mengajar di salah satu sekolah favorit di kota Bandung. Pada saat itu saya harus menghadapi dua orang siswa yang kemampuan belajarnya dapat dinyatakan cukup rendah. Dua orang siswa tersebut terlihat sangat tidak berdaya untuk mengikuti pelajaran seperti layaknya teman-temannya yang lain. Setelah saya ajak ngobrol, ternyata saya dapat mengidentifikasi bahwa kedua siswa tersebut memiliki masalah yang sama, yaitu tingkat kesiapan belajar dan perhatian orang tua. Setelah mereka bersedia menceritakan kisah hidup mereka, dengan mengedepankan rasa empati, akhirnya saya bersedia membimbing mereka belajar di luar jam pelajaran. Dan kita bertiga akhirnya belajar bersama, berbagi cerita suka dan duka, berbagi cemilan, dan menjadi ”teman sejati” di setiap waktu istirahat hari efektif belajar di sudut ruangan perpustakaan sekolah.
Metode pembelajaran diskusi merupakan warna tersendiri yang selalu saya hadirkan di ruang kelas. Belajar bersosialisasi, membangun komunitas belajar yang produktif, serta memberikan pengalaman belajar bersama dalam membangun pengetahuan merupakan tiga hal yang dapat dikembangkan secara bersamaan melalui kegiatan berdiskusi di antara peserta didik. Hal ini saya pikir sangat sejalan sekali dengan perintah mengajar keempat dari Polya, “Sadarlah bahwa cara terbaik untuk belajar sesuatu adalah dengan menemukannya oleh diri Anda sendiri (Realize that the best way to learn anything is to discover it by yourself)”.
Perintah mengajar selanjutnya dari Polya menyatakan, “Berilah siswa Anda bukan hanya informasi, tetapi juga ‘bagaimana mengetahui’, ‘sikap mental’, kebiasaan kerja metodis (Give your students not only information, but also ‘know-how’, ‘mental attitude’, the habit methodical work)”. Dalam konteks ini, saya selalu memegang prinsip bahwa siswa adalah subjek pembelajaran dan saya sebagai guru berperan sebagai motivator, fasilitator, dan director of learning. Tugas utama saya adalah membentuk karakter seorang pembelajar mandiri kepada anak didik saya. Konsekuensinya, dalam pembelajaran saya tidak hanya “menyuapi” siswa dengan berbagai informasi, tetapi mengarahkan siswa agar menjadi seorang pemikir dan problem solver yang andal. Artinya siswa diberi kesempatan yang sangat luas untuk bertanya, menunjukan kemampuan terbaik, dan menilai kemampuan diri mereka secara objektif untuk membangun konsep diri yang positif pada diri mereka.
Perintah keenam dan ketujuh mengajar dari Polya adalah biarkan mereka belajar menerka (let them learn guessing) dan biarkan mereka belajar membuktikan (let them learn proving). Upaya yang biasa saya lakukan untuk menjalankan perintah mengajar ini adalah dengan memberikan kuis, simulasi, dan teka-teki yang sifatnya untuk menguji kemampuan berpikir mereka. Harapannya adalah bahwa siswa terbiasa menghadapi tantangan dan masalah yang harus mereka hadapi dalam kehidupan mereka, dan dalam situasi tersebut mereka mampu menjadi problem solver yang handal sebagai hasil dari proses pengkondisian yang telah saya upayakan selama berlangsungnya kegiatan pembelajaran.
Hati-hati terhadap ciri-ciri masalah di tangan sehingga dapat berguna dalam menyelesaikan masalah yang datang –cobalah untuk memperlihatkan pola umum yang terletak di belakang situasi konkret yang diberikan (Look out for such features of the problem at hand as may be useful in solving the problem to come –Try to disclose the general pattern that lies behind the present concrete situation). Perintah untuk mengajar ini pernah saya alami ketika saya menjadi subjek pembelajaran dalam melewati proses untuk menjadi seorang pemikir yang produktif dalam menghasilkan karya ilmiah. Proses bimbingan skripsi yang saya lalui begitu saya maknai dan membuat kepekaan ilmiah saya berfungsi secara optimal. Pada proses tersebut saya menemukan banyak hal yang sangat berguna untuk karir saya ke depan, khususnya pada kemampuan metodologis berpikir, kreativitas dalam berkarya ilmiah, serta pengembangan diri di dunia tulis-menulis. Thanks for Mr. Jacob, beliaulah satu sosok yang mampu menjalankan perintah mengajar dengan efektivitas mengajar tingkat tinggi, dan saya adalah salah satu mahasiswa binaan beliau yang berhasil melepaskan diri dari jeratan masalah klasik para akademisi di negeri “antah berantah” ini.
Janganlah memberikan terlalu jauh seluruh rahasiamu serentak –biarkanlah siswa menerka sebelum Anda mengerjakannya—biarkanlah mereka oleh diri mereka sendiri yang sesungguhnya dapat dikerjakan dengan mudah (Do not give your whole secret at once –let the students guess before you tell it –let them find out by themselves as much as it feasible). Saya masih tidak habis pikir kalau ada guru yang ngasih masalah kemudian dia sendiri yang menyelesaikan masalah yang dia buat. Di beberapa sekolah yang saya pernah survey, kondisi ini cukup menggelikan. Banyak hal yang sangat disayangkan sekali seandainya kondisi ini terjadi di ruang-ruang kelas kita. Pertama, kita tidak sedang bersungguh-sungguh untuk menjadikan siswa kita seorang problem solver yang baik. Padahal proses conditioning dan reinforcement dalam konteks ini merupakan substansi dasar dari upaya menciptakan produk pendidikan yang “melek” masalah global dan mampu berkompetisi di dalamnya sebagai pribadi yang unggul. Kedua, berdasarkan pengalaman yang saya alami, ketika saya biarkan siswa memecahkan masalah yang saya berikan sampai batas kemampuan terbaik mereka, banyak sekali ide kreatif baru yang muncul dari upaya pemecahan masalah mereka. Itu berarti, kita sebagai guru menjadi semakin kaya dengan alternatif solusi yang ditawarkan oleh siswa kita. Tanpa disadari pula, kita pun sebagai guru menjadi seorang pembelajar yang mau dan mampu menjadikan siswa kita sebagai teman berbagi pengetahuan dan sumber informasi yang relevan dengan pengembangan diri kita sebagai insan yang profesional.
Perintah terakhir dari Polya untuk para guru adalah doronglah mereka, jangan memarahi mereka (suggest it, do not force it down their throats). Pernyataan ini mengingatkan saya pada salah satu sabda Rasulullah Saw yang diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., “Berwasiatlah kepadaku, ‘Beliau bersabda, ‘jangan marah’. Beliau mengulanginya hingga beberapa kali, seraya bersabda, ‘jangan marah’ (HR. Bukhari). Kemudian, Abu Dzar Al Ghifari mengatakan bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Apabila salah seorang di antara kamu marah sambil berdiri, hendaklah dia duduk hingga kemarahannya hilang. Jika tidak hilang, hendaklah berbaring.”
Ada empat alasan mengapa kita tidak perlu marah. Pertama, marah membutakan pandangan. Kita tidak bisa berpikir jernih dalam kemarahan. Kedua, marah mengundang musuh. Kerjasama dibangun di atas semangat bantu-membantu, bukan paksa-memaksa apalagi disertai kemarahan. Ketiga, marah berarti kelemahan. Kita kalah saat marah. Orang yang membuat kita marah, mengalahkan kita. Keempat, marah membuang energi yang tidak berguna.
Setelah Anda tahu bahwa marah adalah karakter negatif yang akan menjerumuskan, masihkan Anda akan marah kepada anak didik Anda? AsSya.

Teachers Guide, V.02.03. Edisi Juni 2007