Kupang (1/7) – “Gempa… Gempa… !” Teriak seorang guru memecah ketenangan suasana belajar. Dalam hitungan detik pun orang-orang yang berada di dalam kelas berhamburan keluar ruangan. Ada yang bersembunyi di bawah meja, ada pula yang melindungi kepalanya dengan kursi. Hiruk-pikuk di atas adalah gambaran dari simulasi menghadapi kegempaan yang dilakukan oleh para guru di Kota Kupang Nusa Tenggara Timur. Selama 2 hari, workshop yang diselenggarakan dalam rangkaian Roadshow Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa tentang Managemen Bencana Bidang Pendidikan ini diikuti oleh 50 orang guru dari berbagai sekolah.

Bencana memang seringkali melanda Indonesia. Hampir setiap bencana menelan korban jiwa yang jumlahnya tak sedikit. Seringkali korban berjatuhan diakibatkan oleh kurangnya pemahaman akan kondisi lingkungan dan minimnya informasi tentang penyelamatan diri di saat bencana terjadi. Roadshow yang didanai oleh BAMUIS BNI 46 ini telah diselenggarakan untuk yang ke dua kalinya.Selain mensimulasikan kondisi kegempaan, para peserta juga diajak untuk melakukan tindakan cepat tanggap bidang pendidikan, terutama untuk memulihkan kembali aktifitas belajar mengajar pasca bencana. Dalam presentasinya, Reza Indragiri Amriel, salah seorang trainer dalam kegiatan tersebut menyatakan bahwa salah satu obat yang mujarab dalam mengatasi kondisi trauma pasca bencana adalah dengan sesegera mungkin mengembalikan aktifitas yang biasa dilakukan sehari-hari. Jika seorang anak biasa berangkat ke sekolah dan beraktifitas bersama dengan teman-temannya sebelum terjadinya bencana, maka segeralah kembalikan aktifitas itu sesaat setelah bencana terjadi.

Dalam workshop yang difasilitasi oleh Yayasan Ibadurrahman Kupang ini juga telah terbentuk Komunitas Relawan Tanggap Bencana Bidang Pendidikan yang secara aklamasi menunjuk Bapak Edi Sugiarto salah seorang peserta yang mewakili SMK Negeri 2 Kupang ini sebagai koordinator wilayah Nusa Tenggara Timur.

Acara yang berlokasi di Aula Man 1 Model Kupang sejak tanggal 30 Juni hingga 1 Juli 2007 juga memberikan bekal kepada peserta untuk dapat bekerja dalam kondisi darurat berdasarkan Standar Minimum Pendidikan yang dirilis oleh The Inter-Agency Network for Education in Emergency (INEE) sebuah jaringan global dari lebih 100 oganisasi di bawah lembaga-lembaga PBB yang menangani bidang pendidikan, kesehatan, anak-anak, dsb.

“Bencana tak pernah kita kehendaki, tetapi jika itu terjadi, mari bahu-membahu mengembalikan kondisi menjadi lebih baik lagi.” Ungkap seorang peserta setelah workshop itu usai. (MP-1)