Catatan Kecil Seputar Ujian Akhir Nasional

Oleh : Reza Indragiri Amriel

Reza Indragiri AmrielSinar Harapan (29/6) – ”AGTR (nama institusi disamarkan) recruits ESL teachers for many countries in Asia. We now have ESL jobs open in South Korea and from time to time will have ESL jobs in China, Hong Kong, Taiwan, Indonesia, Thailand and Vietnam. No teaching qualifications or experience needed.”

Ada “sisa” polemik seputar Ujian Akhir Nasional (UAN) yang masih berlanjut hingga kini. Dari tahun ke tahun, salah satu bidang studi yang menjadi momok adalah bahasa Inggris, di samping matematika. Tidak lulus akibat nilai UAN bahasa Inggris yang tidak mencukupi, meninggalkan sejumlah catatan.

Pertama, ditempatkannya bahasa Inggris pada level yang setara dengan bahasa Indonesia, pada satu sisi memang mengisyaratkan adanya semangat untuk mempertinggi kompetensi berbahasa orang-orang Indonesia agar siap masuk ke arena persaingan global. Namun, pada sisi lain, bobot yang sama pada kedua bahasa tersebut dalam menentukan lulus tidaknya siswa niscaya memberikan tekanan psikologis yang besar terhadap para pendidik dan siswa.

Penguasaan yang memadai atas bahasa Inggris memang penting. Permasalahannya, secara umum, masyarakat Indonesia tidak terlahir dengan bahasa Inggris sebagai bahasa ibu mereka. Juga bukan sebagai bahasa kedua, karena bisa jadi bahasa Indonesia atau bahasa daerahlah yang lebih dominan. Dibandingkan dengan Jepang dan India, di Indonesia publikasi berbahasa asing—termasuk Inggris—pun belum seberapa banyak. Jadi, pembobotan UAN yang sama antara bahasa Inggris dan bahasa Indonesia tidak begitu selaras dengan kenyataan sosiokultural yang ada di Tanah Air.

Sebuah sensus dilakukan di Amerika Serikat pada tahun 2000 untuk mengukur kemampuan berbahasa Inggris di kalangan para komunitas pendatang. Sensus itu menunjukkan, di lingkungan masyarakat Asia, hanya kurang dari dua persen warganya yang merasa mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris dengan baik. Angka tersebut terrendah dibandingkan dengan komunitas-komunitas lainnya.

Gejala Inferioritas

Sensus tersebut memakai metode self-assessment, bukan instrumen uji bahasa Inggris. Dengan demikian, tidak menutup kemungkinan, ada problem kepercayaan diri yang memengaruhi rendahnya penilaian komunitas Asia di Amerika Serikat terhadap keterampilan berbahasa mereka yang sebenarnya. Saya menduga, faktor yang sama pula yang meruyak di masyarakat Indonesia.

Kedua, kenyataan di atas merembes ke dalam lingkungan akademik, di mana gejala-gejala inferioritas terhadap bahasa Inggris juga masih terasa kuat. Sadar maupun tidak, para pendidik menumbuhkan anggapan bahwa bahasa Inggris “hanya layak” dijadikan sebagai bahasa pengantar pada hal-hal luar biasa tersebut. Bukan sebagai media komunikasi yang inklusif: untuk semua kesempatan, oleh semua orang. Dengan kata lain, penyemaian bahasa Inggris tidak disertai dengan penumbuhan (tepatnya penjernihan) keyakinan bahwa bahasa Inggris adalah bahasa biasa laiknya bahasa Indonesia, bahasa Tegal, bahasa Ambon, bahasa Makasar, bahasa Sunda, dan bahasa-bahasa lainnya.

Dari aspek metodologis, tatap muka minimal dua jam per minggu yang lebih menekankan aspek tata bahasa juga menambah tekanan psikologis bagi siswa. Berbahasa Inggris terkesan menjadi begitu matematis dan miskin akan rasa bahasa yang sesungguhnya lebih penting dalam berkomunikasi.

Ketiga, perpaduan antara keinginan kita untuk terampil berbahasa Inggris dengan inferioritas kita terhadap hal-hal berbau Barat tampaknya terbaca oleh pihak asing. Itu yang tertuang dalam kutipan iklan di awal tulisan ini: “No teaching qualifications or experience needed”!

Maraknya pertumbuhan lembaga-lembaga pendidikan bahasa Inggris tidak diikuti dengan standarisasi pengajar asing (native speakers). Berbeda dengan intitusi pengajaran bahasa Indonesia di negara-negara asing yang menetapkan syarat ketat bagi para guru merangkap pembicara asli. Karena bukan visi pendidikan yang dikedepankan, melainkan pertimbangan keuntungan semata, maka wajar jika manfaat positif para pengajar asing terhadap kemampuan orang Indonesia dalam berkomunikasi bahasa Inggris tidak seperti yang diharapkan.

Bukan Segala-galanya

Sekali lagi, bahasa Inggris perlu dikuasai secara memadai. Tetapi, penting digaris-bawahi kembali, ia bukan segala-galanya. China menjadi buktinya. Banyak pengamat yang menganggap salah satu titik kelemahan negeri berpenduduk miliaran itu dalam berbisnis adalah penguasaan atas bahasa asing. Terlepas dari itu, para pengamat juga mengakui adanya ‘DNA’ yang menjadi faktor utama ekspansi besar-besaran bisnis China ke seluruh penjuru bumi: keluwesan dan kegigihan dalam bernegosiasi serta tajamnya intuisi dagang mereka. Dan, faktualnya, adalah kekuatan-kekuatan itu—bukan penguasaan atas bahasa Inggris—yang sangat mengerikan bagi para negara pesaing.

Keunggulan Negeri Panda gamblang menunjukkan betapa kepercayaan diri memegang peran penting bagi keberhasilan sebuah bangsa. Pewarisan nilai “aku setara dengan yang lain” pada setiap warga Tiongkok mampu menciptakan daya tangkal terhadap inferioritas yang dapat muncul sewaktu-waktu akibat adanya ‘tuntutan global’ untuk menguasai bahasa asing.

Dalam cermatan saya, urgensi pondamen nilai seperti di atas yang saya tangkap selama merekrut dan menyeleksi sejumlah besar profesional dan eksekutif Indonesia. Meskipun proses seleksi lebih difokuskan untuk mengukur visi dan konsep kerja mereka, namun dapat saya simpulkan sebagian kandidat memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang baik bukan karena mereka memelajarinya secara formal, melainkan karena adanya konsep diri yang kuat tentang jatidiri mereka sebagai bangsa Indonesia. Menggali latar belakang dan pola asuh para eksekutif itu, mereka yang tidak begitu baik bahasa Inggrisnya ternyata masih melihat wong londo sebagai sosok yang superior. Ini yang menjadi hambatan bagi mereka untuk dapat berkomunikasi dalam bahasa londo dalam tataran yang sejajar. Ringkasnya, sudah kalah mental sebelum berperang.

Demikian pula dalam memelajari bahasa Inggris. Pengajaran yang cenderung didominasi pendekatan kognitif perlu dimodifikasi. Metode itu tidak semestinya dipisahkan dari upaya penumbuh-kembangan identitas anak didik sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Juga perlu dipertimbangkan kembali penempatan bahasa Inggris dan Indonesia pada posisi setara dalam menentukan kelulusan siswa. Langkah ini yang—mudah-mudahan—dapat menghilangkan beban psikologis para siswa dan guru-guru mereka saat memelajari bahasa asing.

Penulis adalah Associate Trainer Lembaga Pengembangan Insani. Pernah mengetuai delegasi Indonesia ke Program Pertukaran Pemuda Indonesia Australia.

Copyright © Sinar Harapan 2003