Bogor (2/7) – Pelatihan bagi guru-guru SMA Mansamat Kep. Banggai yang diselenggarakan di Lembaga Pengembangan Insani (LPI) telah usai. Meski para guru terlihat letih namun masih sempat menuangkan banyak gagasan dan ide bagi sekolahnya di kecamatan tinangkung selatan tersebut. Di sela-sela persiapan menuju kembali ke kampung halaman, merekapun memberikan sebuah refleksi dari hasil pelatihan yang telah diikutinya.

Sebagai contoh Bapak Lawit Bidal seorang Guru Sejarah yang berstatus PNS ini mengungkapkan rasa syukurnya yang telah diberi amanah sebagai seorang guru oleh Allah SWT. melalui pemerintah. Keinginan untuk menjadi seorang guru profesional demi mencapai sebuah legalitas menjadi guru teladan menjadi sebuah cita-cita baginya, namun menurutnya untuk mendapatkan pengakuan sebagai guru teladan diperlukan skill untuk menunjang kinerja profesionalnya. Di antara skill yang harus dimiliki adalah wawasan dan pengetahuan yang luas, kedisiplinan, dan keuletan. ”Kemampuan inilah yang menurut saya dapat membuat saya mampu mewujudkan cita-cita dan harapan saya menjadi guru teladan”. Ungkapnya sambil berharap.

Senada dengan rekan sejawatnya, Bapak Rusli Nombi merasa perlu bahwa untuk mencapai cita-cita menjadi guru teladan, maka harus berupaya keras dan siap menghadapi cobaan dan tantangan yang menghadang. ”Sehingga apa yang saya cita-citakan dapat diraih dengan kesuksesan dan kegemilangan yang luar biasa.” paparnya pengajar biologi itu dengan semangat.

Tak kalah dengan yang lainnya, Bapak Suleman Bukasa yang berlatar belakang Pendidikan Kimia sekaligus mengajar Fisika menyatakan, bahwa profesi sebagai guru dijalaninya dengan sukacita, walaupun dengan bayaran terbilang kurang dari cukup, tetapi dia bersyukur karena bisa mengabdikan diri dan mendapat uang dari hasil kerjanya tanpa meminta lagi kepada kedua orang tua, kemudian berkomitmen pada dirinya akan menjadi guru yang hebat, baik, profesional, dan disukai murid-murid serta orang orang lain. ”Konsekuensi dari semua komitmen diriku menuntut banyak hal yang harus dilakukan. Oleh sebab itu, perubahan diri dan pengembangan kreativitas sebagai seorang guru harus kulakukan selangkah demi selangkah.”janjinya.

Sementara Bapak Zulfan mencoba menggaris bawahi tentang kompetensi guru. ”Hanya ada satu pilihan, ketika guru mau lebih berkembang kompetensinya, yaitu melalui perubahan mendasar dalam hal metodologi pembelajaran.” katanya bersemangat. ”Hal ini terinspirasi dari adanya kegiatan pelatihan yang dilaksanakan oleh LPI Dompet Dhuafa Republika yang baru lalu.” tambahnya. ”Akhirnya kepada seluruh pihak, tak henti-hentinya saya mengajak untuk terus menjaga konsistensi peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia pada umumnya dan peningkatan kualitas pendidikan di Kep. Banggai pada khususnya.” harap Sang Guru Agama ini meyakinkan.

Masih sejalan dengan itu Bapak Budiyanto Tayeb mencoba menekankan kembali, bahwa profesi Guru adalah sebuah profesi sosial yang pahalanya takkan pernah putus. Profesi Guru juga merupakan sebuah investasi amal sehingga kita akan tertantang untuk terus belajar sehingga kita sanggup memberikan yang terbaik bagi masyarakat. “Belum lama pemikiran ini hadir menjelma menjadi sebuah paradigma dalam diri saya, sehingga hari ini saya bisa berkomitmen untuk menjalankan prinsip hidup saya dalam mengajarkan sesuatu yang baik dan berguna bagi orang lain.” Ungkapnya haru, kemudian diapun mencoba menyemangati rekan guru lainnya dengan 5 tips nya : (1) Jadikan profesi guru sebagai investasi kebaikan dunia akhirat. (2) Mulai dari diri sendiri kemudian mengajak teman-teman. (3) Harus selalu gelisah kalau tidak membaca buku. (4) Mengamalkan segala yang telah diperoleh selama pelatihan.(5) jadikan dirimu memang yang terbaik.

Melengkapi ungkapan rekan lainya, Bapak Hudrin L Tobi mencoba mengingatkan bahwa lingkungan yang tidak baik merupakan suatu tantangan bagi para pelajar dan pada khususnya para pendidik untuk membendung agar siswa yang dididiknya dapat menghadapi berbagai pengaruh negatif dari lingkungan di luar sekolah. Oleh karena itu lingkungan yang tidajk baik merupakan monster yang selalu menghantui setiap jiwa para pelajar, apakah itu di kota-kota besar maupun di pedesaan bahkan di pelosok-pelosok Indonesia . Apalagi di era globalisasi sekarang ini dunia semakin modern, pengaruh lingkungan sangat rentan terhadap jiwa para pelajar terutama media televisi yang banyak menayangkan sinetron yang tidak mendidik, misalnya sebagian besar televisi hanya menayangkan sinetron percintaan para siswa di sekolah, siswa yang mengkonsumsi narkoba dan minuman keras, tawuran antar sekolah, dan tayangan negatif lainnya. Sedangkan sinetron bernuansa pendidikan sangat sedikit sekali yang ditayangkan oleh stasiun televisi kita. Menutup refleksi dari para guru pak hudrinpun berpesan bahwa dalam dunia pendidikan mungkin pelatihan ini terasa kecil, tapi kalau kita dalami sebenarnya sangat besar manfaatnya. Untuk itu, pengembangan diri melalui pelatihan bagi para guru itu dirasa sangat besar dampaknya, misalnya berbagai pengetahuan serta pengalaman yang kita dapatkan dari pelatihan yang telah kita jalani beberapa hari ini, belum tentu kita dapatkan di hari lain. Mudah-mudahan dapat kita aplikasikan di daerah (di SMA Pertama Mansamat) agar dapat disalurkan kepada generasi selanjutnya demi kemajuan negeri kita di hari-hari mendatang. Amin.. (MP-1)