Kasus Pertama
Pak Denis memiliki lima buah mobil dengan harga yang sangat mahal sekali. Namun demikian, hanya dua mobil saja yang biasa dipakainya. Satu mobil digunakan untuk acara refreshing keluarga dan mobil yang satunya lagi digunakan untuk kegiatan kantornya. Mengapa beliau tidak memiliki dua mobil saja yang sering dipakai sesuai kebutuhannya? Mengapa Pak Denis mau mengeluarkan biaya perawatan dan pajak yang besar dari ketiga mobilnya yang tidak pernah dipakai?

Kasus Kedua
Ada seorang petani tua yang bernama Pak Danis. Suatu hari ia menanam pohon asam dan mangga di kebunnya di dekat jalan. Waktu berlalu, pohon itu dirawatnya dengan cermat. Tingkah laku Pak Danis itu membuat aneh seorang saudagar yang lewat. Ia heran kenapa pohon yang baru akan berbuah dan memberikan hasil setelah bertahun-tahun lamanya ditanam oleh Pak Danis? Bukankah Pak Danis sudah tua? Kenapa tidak menanam pohon yang siap panen dalam waktu dekat saja?
Ketika saudagar itu mencoba bertanya kepada Pak Danis dengan pertanyaan-pertanyaan di atas, lalu apa jawaban dari Pak Danis. Beliau dengan enteng menjawab, ”Saya sekarang sudah ’bau tanah’. Ketika pohon itu besar dan berbuah, mungkin saya sudah lama meninggal. Tetapi pohon itu akan tetap bermanfaat. Orang yang lewat bisa berteduh, anak-anak bisa bermain sambil memanjat dan memetik buahnya.”

Visi hidup ’menjadi’ dan ’memiliki’, itulah yang membedakan antara Pak Denis dan Pak Danis. Pak Denis menganut visi hidup yang berorientasi ’memiliki’, sedangkan Pak Danis memegang kuat visi hidup ’menjadi’.
Ciri utama dari orientasi hidup ’memiliki’ adalah kecenderungan untuk memperlakukan setiap orang dan setiap hal menjadi miliknya. Memiliki, berarti menguasai dan memperlakukan sesuatu sebagai objek. Orang yang berorientasi ’memiliki’ tidak bisa hidup dengan dirinya sendiri karena bergantung pada simbol-simbol yang menjadi miliknya. Ketika miliknya hilang dari genggamannya, entah itu mobil, rumah, popularitas, jabatan, dan simbol-simbol kepemilikan lainnya, maka bersamaan dengan itu hilang pula eksistensinya.
Orientasi ’menjadi’ mendorong seseorang melakukan sesuatu yang tumbuh dari dirinya sendiri –mengedepankan sikap mau berbagi, memberi, dan berkorban– dengan tujuan untuk membawa perubahan yang berguna dalam tataran sosial kemasyarakatan. Jika melihat sekuntum bunga harum semerbak, seseorang yang berorientasi ’memiliki’ akan memetik bunga itu untuk disimpan di kamarnya agar harumnya bisa dia nikmati sendiri. Tetapi orang dengan visi hidup ’menjadi’ mungkin akan membiarkan bunga itu tumbuh, bahkan menyirami dan memelihara agar setiap orang yang lewat dapat menikmati keharumannya.
Begitu pula dengan dunia pendidikan kita yang membutuhkan sosok guru yang berorientasi hidup ’menjadi’. Mereka memandang profesinya sebagai sarana untuk berinvestasi kebaikan dalam menghasilkan generasi bangsa yang cerdas, terampil, dan mampu bersaing dalam kehidupan masa depan. Mereka tidak memandang profesinya sebagai ladang mencari nafkah kehidupan semata, bahkan lebih dari itu, semua yang mereka miliki diberikannya untuk keberlangsungan perjalananan proses pendidikan yang penuh liku.
Masih adakah guru-guru yang memiliki visi hidup ’menjadi’? Berapa banyakkah guru-guru yang memegang orientasi hidup ’menjadi’? Satu yang pasti, guru yang ’menjadi’ akan mencari kebahagiaan dengan cara membahagiakan orang lain, mencari kesenangan dengan cara menyenangkan orang lain. Tetapi guru yang ’memiliki’ akan mencari kebahagiaan dengan cara mengorbankan orang lain. Kita termasuk guru yang mana?
Asep Sapa’at