oleh:

Zaina Zhifa, S.Th.I

Seorang guru dituntut untuk tahu tentang cara belajar anak didiknya dalam menyampaikan materi ajar. Ada anak-anak yang kalau belajar bisa sambil bermain, ada anak yang serius dalam belajar, ada yang harus banyak mencatat saat belajar berlangsung, dan lain-lain. Mengajar tidak hanya menyampaikan informasi kepada anak didik. Lebih dari itu, seorang guru harus tahu kondisi mereka saat belajar. Anak yang bermasalah ketika guru menjelaskan, misalnya ketika di kelas ada anak tidur, mengganggu temannya, dan beragam permasalahan lain yang ditemukan dalam proses belajar-mengajar. Permasalahan ini harus dicari tahu penyebabnya dan solusi penyelesainnya segera, sehingga pembelajaran tidak terganggu.

Dari masalah anak didik di atas, guru hendaklah menyadari bahwa peserta didik memiliki cara belajar yang berbeda. Menurut Mel Silberman dalam bukunya Active Learning, ada beberapa cara yang mereka lakukan. Pertama, ada yang belajar secara auditory, yaitu bersifat mendengar. Siswa seperti ini sering terganggu dalam hal mendengar. Apabila dalam belajar siswa mendengar sesuatu, langsung beralih ke suara tersebut. Kedua, anak didik belajar dengan cara visual yaitu, melihat, memperhatikan guru, mereka lebih senang mencatat apa yang pengajar sampaikan. Tipe seperti ini tidak terganggu dengan suara hingga belajar tetap berlagsung. Ketiga, bersifat kinestic, di mana peserta didik terlibat langsung dalam aktivitas. Anak kinestetik biasanya cenderung gelisah selama proses belajar berlangsung kecuali mereka dapat bergerak dan melakukannya.

Dari tipe-tipe belajar anak menurut Mel Silberman, guru diminta agar dapat mengajar anak didiknya tidak hanya ceramah—yang biasa dilakukan kebanyakan guru—tetapi ada cara atau metode yang membuat pembelajaran tidak membosankan. Misalnya ketika guru menjelaskan materi, mengaitkannya dengan film kartun sehingga anak-anak tertarik. Dengan menambahkan visual pada pelajaran menaikkan ingatan dari 14% ke 38%. Penelitian juga menunjukkan perbaikan sampai 200% kata ketika kosakata diajarkan dengan menggunakan visual. Bahkan waktu yang diperlukan untuk menyampakan konsep berkurang sampai 40%. Manakala pengajaran menggunakan auditori dan visual, kesan menjadi lebih kuat dengan dua sistem penyampaian itu.

Selain itu, guru membuat permainan-permainan yang mendidik, membentuk susunan duduk menjadi huruf U dalam mengajar. Di sini anak didik akan merasakan suasana baru dalam belajar. Mereka juga dapat dengan mudah melihat teman-temannya lain—yang selama ini duduk di belakang terlihat jelas. Guru juga bisa mengajak anak didik belajar di luar kelas, untuk mengenalkan jenis-jenis tumbuhan, hewan-hewan, berinteraksi dengan masyarakat, dan lain-lain. Dengan demikian siswa akan terlihat aktif dan belajar menyenangkan.

About these ads