oleh:

Ninik Nikmatul Khasanah

Pernahkah Anda melihat keadaan di luar sana yang jauh lebih tidak beruntung seperti kita? Pernahkah kita merasakan apa yang mereka rasakan dan butuhkan? Mulai dari anak-anak yang tidak dapat merasakan pendidikan, baik karena keadaan ekonomi keluarga maupun pendidikan orang tua yang rendah. Atau bahkan motivasi belajar anak yang sudah mati, karena lingkungan yang sangat menjerumuskan mereka ke dalam perbuatan yang tidak baik? Sungguh memprihatinkan dan mengiris hati kita. Kalau pun ada anak-anak yang dapat merasakan sekolah, namun letak sekolah yang sulit dijangkau, fasilitas yang sangat memprihatinkan, sumber daya yang dimiliki guru tidak memenuhi kebutuhan siswa, dan tidak memenuhi kriteria yang ditentukan.

Apa yang akan Anda lakukan jika dihadapkan dengan kenyataan seperti itu? Apakah Anda akan bersedia membantu mencerdaskan mereka secara sukarela? Jika jawabannya adalah TIDAK! Maka, itu adalah sebuah jawaban bagi seorang guru yang tidak terketuk hatinya, hanya mengejar kesejahteraan atau sertifikasi, dan bahkan guru yang hanya sekedar mentransfer ilmu. Sungguh memprihatinkan jika seorang guru dihadapkan pada kenyataan tersebut tidak terketuk hatinya sedikit pun, masih memikirkan dan mengejar kesejahteraan dan kesenangan pribadi semata. Kalau kita tengok kembali, fungsi guru itu sendiri bukan hanya sebagai seorang pengajar melainkan sebagai seorang pendidik, yang mempunyai tanggung jawab terhadap siswa-siswanya baik di dunia maupun di akhirat.

Lantas bagaimana jika saya dihadapkan dengan kenyataan tersebut? Saya membayangkan kondisi sekolah yang memiliki infrastruktur kurang layak digunakan, ruang kelas, sarana perpustakaan yang tidak terawat sehingga tidak memungkinkan untuk menyimpan buku-buku karena bocor, beralaskan tanah liat, meja-bangku yang hampir rapuh, kurangnya guru, atau bahkan para siswa yang berasal dari keluarga menengah ke bawah, dan masih bayak lagi permasalahan sekolah yang mungkin tidak cukup untuk dituliskan lagi. Bagi saya, keadaan sekolah seperti itu tidak menjadikan saya acuh tak acuh atau bahkan khawatir dengan kesejahteraan hidup saya nanti. Keadaan tersebut menjadikan saya lebih dapat merasakan apa yang mereka rasakan, khususnya kesulitan yang mereka hadapi; membuat saya lebih berkembang untuk dapat mengembangkan dan menemukan solusi atau strategi untuk dapat membangun motivasi siswa untuk tetap dapat dan mau belajar (disesuaikan dengan keadaan siswa); serta bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan para siswa baik di dunia maupun di akhirat.

Ada berbagai starategi atau cara untuk dapat mengatasi kondisi sekolah seperti itu. Beberapa di antaranya adalah jika menghadapi orangtua yang memiliki pemikiran bahwa sekolah itu mahal dan sebagainya, yaitu dengan melalui pendekatan dan penjelasan bahwa setiap manusia berhak mendapatkan pendidikan baik kaya ataupun miskin. Kalau pun orang tua merasa bahwa mereka tidak mampu membiayai sekolah, kita dapat menjelaskan bahwa bagi siswa yang tergolong tidak mampu dan berprestasi dapat mengajukan beasiswa pendidikan sehingga orang tua tidak lagi berpikiran bahwa pendidikan itu mahal dan sulit. Selanjutnya, jika kita sedang mengajar di kelas, usahakan dapat memanajemen kelas dengan baik dan menggunakan metode yang tidak menjemukan siswa (seperti menggunakan alat peraga sederhana, menggunakan nyanyian atau gerakan, dsb). Jika terdapat siswa yang mengalami kesulitan dalam membaca dan menulis, kita dapat melakukan pendekatan dengan memberikan waktu belajar tambahan atau khusus untuk mengajar membaca dan menulis, dan masih banyak lagi contoh lainnya.

Intinya, jika kita dihadapkan dengan keadaan seperti itu, usahakan kita dapat memberikan kenyamanan dan keyakinan pada anak dan orangtua bahwa sekolah itu menarik, menyenangkan, dan tidak selalu mengutamakan ekonomi.

About these ads