Oleh: Fauzul Izmi,SE

Pendamping Sekolah Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa Republika

Menjadi guru sejatinya adalah menjalankan peran yang sangat mulia. Mulia karena ditangan seorang guru lah akan lahir generasi-generasi penerus bangsa. Di tangannya pula lah akan muncul tokoh-tokoh atau kaum intelektual yang akan menjadi agent of change. Maka sudah sepatutnya seorang guru bersyukur dengan karunia yang luar biasa ini. Pemerintah pun telah meningkatkan kesejahteraan para guru dengan menaikkan gaji mereka. Bagi yang berstatus PNS, ada gaji pokok ditambah tunjangan daerah. Besarnya gaji tergantung golongan mereka. Besarnya tunjangan juga tergantung dari besarnya anggaran yang disediakan oleh daerah masing-masing. Bagi guru-guru yang sudah mendapatkan sertifikasi, total penghasilan mereka dalam satu bulan bisa mencapai 4-5 juta. Tentu gaji yang bisa dibilang sudah mencukupi. Dengan gaji sekian, rasanya tak perlu lagi khawatir memikirkan biaya hidup. Makanya tak heran hari ini orang-orang berlomba-lomba untuk menjadi guru. Dimana-mana peminat profesi ini terus mengalami peningkatan karena kebutuhan terhadap guru juga meningkat.

Adanya perhatian serius dari pemerintah hendaknya menjadi penyulut semangat bagi pahlawan tanpa tanda jasa ini agar terus meningkatkan kualitasnya dari waktu ke waktu. Tidak sekedar menjalankan tugas, namun harus memberikan yang terbaik bagi dunia pendidikan di tanah air. Tidak sekedar masuk ke kelas dan memberikan pelajaran kepada murid-muridnya. Tidak juga sekedar melaksanakan tanggung jawab. Namun lebih dari itu yakninya menjadi guru yang kreatif, berwawasan, professional, bermoral,  kompeten dan pendorong perubahan.

Pertama,kreatif. Kreatif disini artinya bahwa seorang guru harus punya terobosan-terobosan baru dalam mengajar atau punya ide-ide cemerlang sehingga murid-muridnya bersemangat dan tidak bosan. Guru yang kreatif adalah guru yang pintar dalam mencari peluang atau solusi dari setiap kendala yang dihadapinya ketika mengajar. Contoh sederhana adalah seorang guru membuat alat peraga melalui tangannya sendiri dengan memanfaatkan barang-barang bekas, karena alat-alat peraga tidak mesti harus selalu dibeli. Guru yang kreatif sangat pintar dalam menghangatkan suasana di kelas sehingga murid-murid menyenanginya.

Kedua, guru yang berwawasan. Artinya seorang guru dituntut agar memiliki wawasan yang cukup karena dia seorang pendidik dan pengajar. Jika seorang guru tidak memiliki wawasan yang mumpuni maka bukan guru yang sejati namanya. Jangan sampai wawasan seorang guru lebih sedikit dibandingkan murid-muridnya. Apa kata dunia jika ada guru yang seperti ini. Oleh karena itu seorang guru harus rajin membaca untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang dimilikinya.

Ketiga,guru yang professional. Profesional artinya seorang guru harus punya kode etik keprofesian. Ia harus meletakkan sesuatu pada tempatnya. Ketika sedang di sekolah maka dia harus menempatkan dirinya sebagai seorang guru. Permasalahan dalam rumah tangganya tidak boleh dibawa ke sekolah. Selain itu guru yang professional adalah guru yang siap menerima kritikan dan saran yang dari orang lain meski pahit sekalipun. Guru yang professional adalah guru yang punya etos kerja tinggi, disiplin,dan bertanggung jawab

Keempat, guru yang bermoral. Artinya adalah bahwa seorang guru harus punya akhlak yang baik ketika mengajar sehingga diharapkan dia bisa pula menanamkan nilai-nilai dan norma dalam kehidupan kepada murid-muridnya. Inilah yang paling penting sebab kecerdasan saja tidak cukup. Apa jadinya jika seorang murid pintar tapi akhlaknya buruk.   Lebih menyedihkan lagi jika seorang guru mencontohkan prilaku yang tidak baik kepada murid-muridnya. Maka seorang guru haruslah punya sikap yang mencerminkan jati diri seorang pendidik

Kelima, guru yang kompeten. Artinya seorang guru harus punya daya saing. Ia harus punya kelebihan dari guru-guru yang lainnya. Ia juga harus melek dengan perkembangan IPTEK sehingga tidak dianggap kolot atau ketinggalan jaman. Guru yang kompeten harus mampu mentransfer ilmu yang dimilikinya kepada murid-muridnya, mengembangkan potensi mereka dan terus mendorong mereka untuk maju

Keenam, guru yang mendorong perubahan. Artinya seorang guru harus punya semangat yang tinggi untuk terus memperbaiki dirinya dari waktu ke waktu. Ia juga harus sadar dengan kekurangan yang dimiliki dan berusaha untuk terus mengembangkan kemampuannya. Ia pun harus mengenali kelemahan murid-muridnya dan berusaha merubah prilaku mereka kearah yang positif.

Disadari atau tidak, guru telah menyumbangkan peran yang begitu besar dalam membangun bangsa ini. Pernahkah terlintas dalam benak kita siapakah guru dari Soekarno? Siapa pula guru yang telah berhasil melahirkan tokoh-tokoh seperti Muhammad Hatta, Buya Hamka, Muhammad Natsir dan lain sebagainya? Mungkin banyak diantara kita yang tidak mengetahuinya. Sejarah lah yang hanya bisa menjawabnya. Tentunya mereka adalah guru-guru yang luar biasa. Mereka mendidik dengan cinta karena cinta adalah energi terbesar yang bisa mengubah segalanya. Mereka mengajar dengan keikhlasan karena hanya dengan keikhlasan lah pekerjaan yang berat sekalipun akan terasa ringan. Tokoh besar hanya lahir di tangan guru yang besar. Sebaliknya, guru yang biasa-biasa saja juga akan melahirkan anak didik yang biasa-biasa saja.

Sejarah pun telah membuktikan bahwa guru menjadi penentu maju atau mundurnya suatu bangsa. Ketika Amerika Serikat dan Sekutunya meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki dengan bom atom, maka yang ditanyakan pertama kali oleh Hirohito yang waktu itu menjadi kaisar Jepang adalah berapa orang guru yang tewas? Hirohito tidak menanyakan berapa banyak tentaranya yang tewas. Dia sadar bahwa kehilangan guru lebih merugikan dibandingkan kehilangan tentaranya. Ini menjadi bukti bahwa peran guru sangat vital bagi kemajuan bangsa manapun di dunia ini. Sejak saat itulah Jepang mulai bangkit dan menata kembali peradabannya dengan memberikan perhatian yang lebih terhadap dunia pendidikan. Hasilnya bisa kita lihat bahwa hingga hari ini negara Sakura tersebut menjadi kekuatan baru yang mampu bersaing dengan negara maju lainnya seperti Amerika Serikat, Jerman, Inggris dan lain sebagainya.

Di Asia Tenggara sendiri ada Malaysia. Malaysia beberapa dekade terakhir hanyalah negara yang dianggap sebelah mata alias tertinggal dari negara kita. Negara bekas jajahan Inggris tersebut selalu mengirimkan pelajarnya untuk mengenyam pendidikan di Indonesia karena mereka menilai Indonesia telah melahirkan tokoh-tokoh besar sejak dahulu kala seperti Soekarno, Syafrudin Prawiranegera, Ali Sastro Amijoyo, Sutan Syahrir, Muhammad Hatta, Buya Hamka, M. Natsir dan banyak lagi yang lainnya. Namun hari ini kita bisa melihat bahwa pelajar dan mahasiswa kita lah yang banyak menuntut ilmu disana. Artinya adalah Malaysia telah berhasil memajukan pendidikannya dengan sukses dan berkesinambungan. Lalu bagaimana dengan negara kita hari ini? Pertanyaan seperti ini perlu diulang-ulang agar menjadi evaluasi untuk kedepannya bahwa dunia pendidikan harus terus disorot dan dibenahi dengan semaksimal mungkin.

Peran guru dalam membangun bangsa sejatinya tak akan pernah tergantikan sampai kapanpun. Sebab, ditangannyalah masa depan bumi pertiwi ini dipertaruhkan. Jika seorang guru sudah memainkan perannya seperti yang diatas, maka suatu saat nanti bangsa kita akan bisa berdiri sejajar dengan negara-negara maju lainnya. Tentu saja untuk mencapai cita-cita mulia ini tidak semudah membalikkan telapak tangan kita. Semua pihak harus saling bekerjasama dan bahu membahu untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas. Maka sebuah pertanyaan yang perlu direnungkan bagi siapa saja yang mengaku sebagai seorang guru adalah sudah sejauh mana peran kita dalam membangun bangsa?Kita sendirilah yang bisa menjawabnya.