WAHAI GURU, MENULISLAH!

Asep Sapa’at
Trainer Pendidikan
Lembaga Pengembangan Insani
Dompet Dhuafa

“Setiap tetes tinta seorang penulis adalah darah bagi perubahan peradaban. Kernanya, perhatikanlah bagaimana ujung penamu bergerak”

(M. Fauzil Adhim)

Guru mampu mengajar, itu perkara biasa. Guru mampu menjadi penulis, ini baru luar biasa. Menulis bisa berarti mengenalkan pribadi kita kepada orang lain. Menulis bisa berarti menyampaikan gagasan dan pengalaman kita kepada orang lain. Menulis tiada batas ruang dan waktu. Setidaknya, menulis bisa menyembuhkan diri Anda, itulah jawaban Mas Hernowo (CEO Mizan) ketika ditanya, “Apakah sejak kecil Mas Her sudah bercita-cita menjadi penulis?”. Jawab beliau, “TIDAK. Saya menjadi penulis sejak usia saya melewati 40 tahun. Saya bisa menjadi penulis karena bekerja di Penerbit MIZAN. Dan saya terdorong untuk menulis (bukan ingin menjadi penulis) karena menulis dapat menyembuhkan diri saya”.

Bingung menyeruak, mungkinkah aktivitas menulis dapat menyembuhkan diri? Beberapa hasil kajian dari berbagai penelitian mencoba menjawabnya.

Pertama, James Pennebaker menjelaskan, “Menulis tentang pikiran dan perasaan terdalam tentang trauma yang kita alami menghasilkan suasana hati yang lebih baik, pandangan yang lebih positif, dan kesehatan fisik yang lebih baik”. Lanjutnya, dalam artikelnya yang ditulis untuk American Psychological Society, beliau menyatakan pula, “Dalam menulis atau bercerita tentang topik-topik emosional, juga ditemukan pengaruh-pengaruh yang menguntungkan dalam fungsi imun (kekebalan tubuh) termasuk self-helper pertumbuhan. Perubahan perilaku juga telah ditemukan. Para siswa yang menulis isu-isu emosional menunjukkan perkembangan dalam perkuliahan dan para profesional senior yang dipecat dari pekerjaannya lebih cepat mendapatkan pekerjaan baru setelah menulis”.

Kedua, Dr. Jillian Smith menyatakan bahwa aktivitas menulis dan membaca semua novel (ringan) adalah sebuah katalisator untuk mengubah psikologi, sosial, dan transformasi.

Ketiga, JAMA (Journal of The American Medical Association) menyatakan, “Penelitian telah menunjukkan bahwa menulis tentang pengalaman-pengalaman trauma secara emosi, secara mengejutkan memiliki efek menguntungkan atas gejala-gejala yang dilaporkan, keinginan sehat secara individual”.

Keempat, Kitty Klein, Ph.D. (Peneliti di The Social Cognitive Laboratory, North Carolina State University) mengatakan bahwa menulis tentang pengalaman yang menegangkan bisa mendorong fungsi kekebalan, mengurangi kemungkinan penularan beberapa penyakit infeksi dan mengurangi gejala-gejala yang berhubungan dengan penyakit lain yang menyangkut sistem kekebalan.

Sekarang kita boleh merasa lebih yakin bahwa menulis dapat menyembuhkan diri kita. Untuk lebih yakin dengan kajian itu, mulai menulis adalah pilihan terbaik untuk dilakukan.

Menulis & Profesionalitas Guru

Semua orang, tanpa kecuali, memiliki pengalaman hebat dalam hidup. Masalah yang paling mudah kita tulis adalah apapun yang kita yakini, kita alami, dan kita rasakan.

Manfaat terbesar dari menulis adalah ‘mengikat’ momen-momen mengesankan dalam hidup. Bagi guru, menulis dapat bermanfaat untuk banyak hal. Menulis catatan harian secara konsisten adalah hal yang paling mudah dilakukan. Pengalaman terbaik dan drama hidup menggetirkan menjadi guru dapat ditumpahkan di catatan harian. “Keeping your own teaching journal is one strategy for stimulating reflection and self-evaluation (Elizabeth F. Shores & Cathy Grace, 1998). Tulisan yang terdokumentasikan adalah senjata ampuh bagi proses evaluasi diri. Utamanya, guru dapat bercermin untuk memperbaiki diri lewat catatan harian mengenai pergulatan hidup dan pengalaman mengajar.

Menulis catatan harian adalah jembatan untuk dapat menulis formal. Guru tak dapat mengelak jika dituntut harus dapat menulis karya ilmiah, modul, atau tulisan formal lainnya. Data dari Badan Kepegawaian Nasional (2005) bisa dijadikan gambaran. Guru Golongan IV-A kesulitan naik pangkat karena tidak dapat menulis karya ilmiah sebagai persyaratan kenaikan pangkat.

Menulis catatan harian jelas sangat berbeda dengan menulis formal. Ala bisa karena biasa. Terbiasa menulis catatan harian merupakan modal utama menulis formal. Faktor kebiasaan mencurahkan gagasan, kejujuran bertutur, kebebasan berekspresi, merupakan pengalaman berharga yang akan didapat dari aktivitas menulis catatan harian.

Tak dapat dibayangkan jika setiap guru di Indonesia produktif menulis. Menulis apa saja. Menulis catatan harian, karya ilmiah, bahkan autobiografi mereka sekalipun. Setiap guru dapat belajar satu sama lain lewat gagasan dan pengalaman yang mereka tulis. Masalah satu guru diungkap lewat tulisan dan dipublikasi di berbagai media informasi (buku, koran, majalah, internet, dsb). Guru lain membaca dan punya solusi, solusinya ditulis dan disebar di media informasi. Ada juga guru yang membaca saja, dan mereka juga belajar dari tulisan yang dibacanya. Itulah bagian penting dari proses pengembangan profesionalitas guru yang hakiki, saling belajar untuk menjadi profesional sejati.

Mengubah paradigma membaca dan menulis adalah keharusan. Membaca, berarti menemukan sumber informasi dan inspirasi yang bermakna untuk dapat digunakan dalam menjalankan profesi guru. Menulis, berarti secara jujur dan benar, menyampaikan semua masalah dan pengalaman terbaik selama berkiprah menjadi guru. Dengan tulisan, dunia akan tahu semua masalah yang dihadapi guru. Dengan tulisan, semua akan tahu peran penting guru dalam membangun peradaban dunia. Dengan teriakan, ruangan akan terguncang. Namun, dengan tulisan, dunia yang akan terguncang.

Sekarang, pilihan ada di tangan guru. Menulis sekarang atau tidak sama sekali. Tidak ada hari esok jika tidak dimulai hari ini. Selamat menulis wahai guru…

Kembali Mendisplay

Rina Fatimah
Trainer Makmal Pendidikan

Tahun ajaran baru sudah memasuki bulan ke 2, sudahkah Bapak dan Ibu guru menghias ruang kelasnya dengan display? Dinding dan papan disekitar ruang kelas membutuhkan sentuhan tangan dan ide kreatif dari seorang guru untuk menciptakan ruang kelas yang nyaman dan menyenangkan. Jadikan ruang kelas menjadi begitu menggoda bagi anak-anak sehingga selanjutnya anak-anak akan merasa betah berada di ruang kelas.
Namun, belum semua guru menghias ruang kelasnya untuk menyambut anak-anaknya yang baru saja selesai menikmati liburan akhir semester. Ruang kelas masih terlihat gersang, andaipun ada itupun hanya hiasan biasa yang terbuat dari kertas krep atau kertas origami yang dibentuk menjadi bentuk bunga lalu di ronce. Lalu apa yang seharusnya dilakukan oleh guru untuk membuat kelasnya indah?
Pertama, kesadaran dan keyakinan dari seorang guru bahwa display dapat menciptakan motivasi belajar siswa. Adanya kesadaran dan keyakinan dari guru menjadikan display adalah suatu hal yang wajib untuk dikerjakan dengan hati senang dan ikhlas.
Kedua, guru membuat perencanaan dengan membuat tema display. Misalkan saja diawal bulan tahun ajaran baru, guru membuat display dengan tulisan “welcoming our school” atau “selamat datang teman” lalu dilanjutkan dengan display tambahan. Untuk ruang kelas satu, guru sudah membuat hiasan huruf dan angka di sepanjang dinding ruang kelas atau menggantung dilangit-langit kelas. Jadi siswa kelas 1 sudah merasakan betul bahwa dia bersekolah ditempat formal.
Ketiga, sharing ide dengan partner atau rekan kerja. Salah satu cara untuk memperoleh ide kreatif dengan melakukan brainstorming atau eksplorasi berpikir. Mungkin kita masih sulit untuk memperoleh ide kreatif yang brilian dengan melakukan brainstorming sendiri. Oleh sebab itu biasakan diri untuk melakukan brainstorming dengan teman atau rekan kerja atau sekolah memfasilitasinya dengan membuat pertemuan rutin.
Keempat, tersedianya peralatan dan perlengkapan untuk memudahkan guru dalam mendisplay seperti gunting, lem, cutter, kertas krep, karton manila, kertas origami, dan lain-lain. Peralatan dan perlengkapan display tak perlu yang mahal dan baru. Penggunaan barang bekas seperti kardus, gelas palstik air mineral pun bisa dimanfaatkan.
Selamat mendisplay

Menjadi Guru Kreatif

Rina Fatimah, S.Sos
Trainer Makmal Pendidikan

Menjadi guru merupakan profesi yang mulia namun memiliki tantangan yang besar. Mengapa? Karena kualitas pendidikan di Indonesia saat ini masih dinilai rendah. Hal ini terlihat dari posisi kualitas pendidikan Indonesia berada diperingkat 53 dari 55 negara yang disurvei World Competitiveness Year Book pada tahun 2007. Peran guru sebagai satu-satunya sumber ilmu pengetahuan, kini perlu diubah menjadi fasilitator bagi siswa. Saat ini guru harus mampu mengelola, memfasilitasi siswanya yang memiliki gaya belajar yang berbeda-beda serta kecerdasan yang berbeda dan mampu menciptakan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Metode belajar ceramah yang sampai saat ini masih diandalkan oleh guru harus diganti dengan metode belajar aktif dan belajar kolaboratif atau metode belajar lainnya yang merupakan gagasan atau ide dari guru. Untuk mewujudkannya diperlukan kecerdasan kreatif dari seorang guru.
Dalam buku The Power of Creative Intelligence, yang dikarang oleh Tony Buzan mendefinisikan kecerdasan kreatif adalah kemampuan untuk memunculkan ide-ide baru, menyelesaikan masalah dengan cara yang khas, dan untuk lebih meningkatkan imajinasi, perilaku, dan produktivitas. Kecerdasan kreatif melibatkan sejumlah faktor dimana faktor-faktor tersebut bisa dipelajari dan dikembangkan sehingga dapat meningkatkan kreatifitas. Salah satu faktornya yakni kelancaran dan fleksibilitas. fleksibilitas yakni kemampuan untuk memproduksi berbagai gagasan, kemudian beralih dari satu cara ke cara lain dengan menggunakan berbagai strategi. Cara mencapai fleksibilitas berpikir yakni dengan cara mengubah sudut pandang. Contohnya Maria Montessori melihat bahwa segala sesuatu yang ada di sekolah, dibangun, diajarakan dari sudut pandang orang dewasa, kursi dan mejanya berukuran besar, kasar dan berat, susunannya bersifat kaku dan murid-muridnya harus berperilaku mengikuti peraturan militer, pembelajaran tanpa mengikutsertakan unsur-unsur alam. Intinya Maria Montessori melihat tidak adanya kreativitas dalam belajar pada masa awal 1900-an. Sejak itulah Maria menempatkan dirinya ke dalam benak anak dan menciptakan dunia baru bagi anak. Alhasil, pada masa itu terjadilah perubahan dunia pendidikan anak pada masa itu. Saat ini sudah banyak sekolah-sekolah Maria Montessori di Indonesia. Sekolah Maria Montessori menjadi rujukan bagi sekolah-sekolah lain terutama dalam metode pembelajaran pendidikan anak usia dini. Fleksibilitas berpikir perlu dimiliki oleh seorang guru. Ketika guru menyusun rancangan pembelajaran, guru bisa menempatkan dirinya sebagai seorang siswa dan mulai mencari apa yang dibutuhkan dan diinginkan oleh siswanya.
Sedangkan, kelancaran didefinisikan sebagai kemampuan kecepatan mengeluarkan gagasan baru. Cara efektif mengembangkan kelancaran otak untuk menghasilkan gagasan dengan melakukan latihan brainstorming yakni memunculkan sebanyak mungkin gagasan yang berkaitan dengan suatu masalah tanpa mempertimbangkan semua penilaian baik atau buruk, praktis atau tidak praktis. Latihan brainstorming ini dapat dilakukan secara kelompok. Jadi bagi guru-guru yang merasa kesulitan menemukan gagasan atau ide pembelajaran, bisa melakukan brainstorming bersama untuk mencari ide-ide dahsyat pembelajaran ataupu membuat gagasan spektakular di tahun ajaran baru sehingga siswa tidak bosan dan jenuh dengan metode pembelajaran yang itu-itu saja. Semoga pendidikan Indonesia semakin berkualitas karena hadirnya guru-guru kreatif.

Ciptakan Motivasi Siswa Melalui Display
Rina Fatimah
Trainer Makmal Pendidikan
Lembaga Pengembangan Insani DD Republika

Selamat pagi! Semangat Pagi! Kalimat pengawal workshop saya. Hari ini saya mendapat tugas mengisi workshop di SDN Pondok Udik, salah satu sekolah pendampingan Makmal Pendidikan di Bogor. Workshop hari ini merupakan lanjutan dari pelatihan manajemen kelas (salah satu materinya tentang memaknai hasil karya siswa melalui display). Bedanya dengan pelatihan, hari ini saya akan mengajak guru-guru untuk mengenal lebih lanjut tentang bagaimana memajangkan hasil karya siswa menjadi lebih menarik dan bermakna.
Sebelum memasuki materi workshop, sebagai pengantar saya menyampaikan sebuah tulisan yang diungkapkan oleh Kimberly Steele “sebuah ruangan tanpa papan informasi terasa gersang. Para siswa ingin sekali memiliki sesuatu yang dapat dilihat pada dinding di sekitarnya. Melalui papan informasi mereka dapat belajar, menemukan sebuah informasi, terinspirasi, dan menambah perasaan nyaman di dalam kelas”. Lalu saya tanyakan kepada guru-guru,” bagaimana dengan ruangan kelas ini?” Salah seorang guru menjawab “gersang”. Mengapa gersang? Pertanyaan itu tiba-tiba muncul dalam benak saya.
Dalam sebuah survey nasional di Amerika yang melakukan survei terhadap seribu siswa yang berusia 13 – 17 tahun, para murid tersebut diminta untuk menuliskan karakter penting yang harus dipunyai oleh guru. Salah satu hasilnya yakni 73,7% siswa menyebutkan citra guru terbaik yakni guru yang mampu membuat kelas menjadi menarik. Menjadikan kelas yang menarik bukan sekedar bagaimana seorang guru tersebut mengajar tetapi bagaimana pula seorang guru mampu menciptakan sebuah ruangan yang nyaman dan menarik bagi siswanya sehingga menambah motivasi belajar siswa.
Setelah penjelasan jenis-jenis dan unsur-unsur display lanjut ke kegiatan mendisplay. Saya mengambil salah satu materi pelajaran matematika yakni menjumlahkan bilangan hingga 20. Sebelumnya saya meminta guru-guru untuk membuat daun kemudian dilanjutkan dengan menjiplak taplak tangan pada kertas kosong. Masing-masing jari bertuliskan penjumlahan bilangan. Kegiatan terakhir, guru diminta untuk menggunting jiplakan telapak tangannya. Lalu saya bertanya kembali “apakah dengan menempel langsung hasil karya siswa pada papan display sudah cukup menarik?”, serentak guru menjawab “belum”. Saya pun mulai membuat batang pohon dari gulungan kertas koran lalu di cat coklat. Kemudian saya meminta guru-guru untuk menempelkan daun-daun layaknya seperti sebuah pohon. Terakhir saya menempelkan hasil karya guru-guru. Celoteh yang terucap dari salah satu guru “wah…ternyata tidak sulit ya”. Yup, betul sekali mendisplay tidaklah sulit. Berikut beberapa tip yang saya berikan kepada guru-guru untuk memudahkan membuat display:
a.Adanya perencanaan display. Perencanaan display memuat tanggal, mata pelajaran, kelas, uraian yang berisikan indikator, alat-alat yang dibutuhkan seperti lem, gunting, karton dan lain-lain, langkah kerja, judul display, dan sketsa gambar hasil display;
b.Tidak tergantung pada barang-barang baru, tetapi pemanfatan barang-barang bekas seperti koran bekas, kertas bekas, kardus bekas dan lain-lain atau benda-benda dari alam seperti daun, pelepah pisang, jeruk, dan lain-lain untuk kegiatan display;
c.Agar display terlihat lebih menarik diperlukan sentuhan akhir dari guru yakni dengan memberikan hiasan.
Bagaimana Bapak dan Ibu guru, sudahkah kelas Bapak dan Ibu guru menarik serta nyaman bagi siswa? Sudahkan hasil karya siswa dipajang hari ini?

ZAINAL UMURI
TRAINER PENDIDIKAN
LPI – DD REPUBLIKA – CIPUTAT

Sembilan dari sepuluh pintu rizki dengan perniagaan ( Umar bin Khatab )

Keterbatasan finansial, itulah gambaran dari profesi guru dan sekolah, memang kenyataannya ada saja guru yang kelihatan lebih makmur, namun tetap saja data di lapangan menunjukan banyaknya guru yang masih hidup sangat sederhana, apalagi mereka yang menjadi guru bakti atau honorer sekolah. Keberhasilan dalam pendidikan seringkali dihubungkan dengan jumlah keuangan / dana yang tersedia. Persoalan lainnya, keterbatasan sekolah untuk mencari usaha-usaha yang tidak memberatkan siswa, ujung-ujungnya, jikapun ada usaha sekolah berakhir pada tingginya iuran ( atau apalah namanya ) yang harus di bayar oleh orang tua siswa.
Sebuah survei yang dilaksanakan oleh Center for Entrepreneurial Leadership menemukan 69 % dari siswa SMA berminat memulai bisnisnya sendiri. Walaupun , sekitar 86 % dari siswa menilai bahwa pengetahuan bisnis mereka sangat rendah / sedang-sedang saja ( Jeff Madura ;P. Bisnis ). Data Diknas menunjukan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan semakin rendah minat wirausaha (Balitbang Diknas 2003 ).
Dari data di atas menunjukan hal yang wajar jika sekolah belum optimal dalam memanfaatkan potensi dan peluang bisnis yang bisa dilakukan dilingkungan sekolah. Para guru sudah terfokus pada pembelajaran dan tanggung jawab mengajarnya, belum lagi kendala – kendala yang timbul, seperti keterbatasan kemampuan siswa, nilai UN yang semakin lama semakin meningkat, gedung sekolah yang hampir roboh, Perilaku oknum guru yang tidak memberi teladan dan banyak hal lainnya, yang membuat mereka tidak punya waktu berpikir mencari peluang usaha sekolah.
Namun, tanpa mengabaikan seluruh permasalah yang ada dan keterbatasan minat para guru, hendaknya sekolah sebagai lembaga pendidikan dapat memberikan kontribusi untuk membiayai operasional sekolah, minimal menghasilkan dana untuk membantu kegiatan-kegiatan sekolah dan syukur jika sampai dapat memberikan kontribusi keuangan pada guru-gurunya.
Shifting Business Paradigm di sekolah, membuka wawasan sekolah dalam menciptakan peluang bisnis namun tetap mengindahkan aturan-aturan yang berlaku. Lahirnya bisnis sekolah sebagai solusi untuk membantu operasional sekolah dan menambah penghasilan guru, tapi ingat!, munculnya bisnis ini jangan sampai merugikan hak-hak siswa dan orang tua dalam pendidikan. Jangan sampai menyelesaikan sebuah masalah tetapi menimbulkan masalah baru. Terbentuknya bisnis sekolah diharapkan bukan menjadikan siswa konsumtif, tetapi harus memberi pengaruh positif seperti membelanjakan uang sesuai dengan kebutuhan dan prioritasnya.

Agung Pardini

Koordinator Sahabat Guru Indonesia (SGI)
Trainer Makmal Pendidikan
LPI – Dompet Dhuafa Republika

Murid-murid terbaik senantiasa dilahirkan dari pengajaran para guru terbaik. Guru yang terbaik merupakan figur inspiratif yang selalu dikenang kehebatannya oleh semua muridnya. Guru laksana rambu-rambu dan petunjuk jalan yang selalu mengarahkan dengan benar murid-muridnya agar menjadi pengendara yang baik dalam menuju tujuan kesuksesan di penghujung masa depannya.
Guru terbaik adalah guru yang sangat memahami bahwa keberadaan jiwa-raganya adalah sebagai seorang pendidik bagi generasi baru yang kelak akan menorehkan lembaran-lembaran kebanggan bagi bangsa ini di masa mendatang. Mendidik selalu diformatnya sebagai bisnis investasi yang paling menguntungkan bagi kelangsungan sebuah peradaban manusia. Sebab realitas yang akan terjadi di esok hari tidak lain merupakan buah dari tanaman yang hari ini sedang disemai oleh petani-petani berdedikasi di kebun-kebun kreatif. Dan petani itu tentunya adalah guru.
Mendidik murid tak ubahnya seperti merawat sekuntum bunga yang kuncupnya bersiap-siap untuk mekar merekah dan menebar aroma keharuman ke seantero kebun kehidupan. Bunga-bunga tadi harus terus menerus berkembang bebas yang warna-warni kelopaknya senantiasa menjadi penyempurna wajah taman-taman nusantara. Sang petani jiwa tentunya tak pernah rela bila kembang-kembangnya yang terus bermekaran itu pada akhirnya harus berakhir lunglai di pojok ruang sebagai penghias semata.
Sebagai seorang pendidik yang utama sudah barang tentu akan selalu mengerti tentang bagaimana caranya memperlakukan setiap pribadi pembelajar yang saling berbeda ’spesies’ berpikirnya itu. Persepsi positif akan selalu terpancar dari wajahnya walaupun harus mengajar murid-murid yang bermasalah sekalipun, karena ia faham bahwa setiap anak memang dilahirkan dengan beragam keunikan.
Tapi amat sayang seribu malang, kemanatah lagi petani-petani jiwa itu? Yang ada terlihat kini hanyalah petani-petani kognisi yang gemarnya menanam benih-benih unggul ciptaan laboratorium instan yang baru bisa tumbuh dengan semprotan pestisida ilmu pengetahuan dan teknologi. Pupuk-pupuk Afeksi kini pun sudah lama tak dipakai lagi, dianggapnya bahan dasar pupuk ini adalah sesuatu yang tak bisa diukur efektifitas kegunaannya. Akhirnya muncullah postulat sesat bahwa sesuatu yang tak bisa diukur sebaiknya ditinggalkan saja.
Akibatnya, petani-petani yang sesungguhnya penuh bakti kepada bunda pertiwi kini hanya bisa merintih sepi ketika melihat kenyataan bahwa tanaman kebanggaanya lebih banyak hapal nama-nama selebritis picisan ketimbang keagungan nama-nama pahlawan kusuma bangsa. Film-film terbaru jauh lebih menarik untuk diminati dibanding buku-buku terbaru. Belajar dipandang sebagai pekerjaan yang membebani bukan sebagai suatu kebutuhan yang menyenangkan. Inilah tantangan berat yang mesti dihadapi para petani jiwa itu kini, ketika tanah tak subur lagi, dan ketika musim tanam tak bisa ditebak lagi, ditambah lagi tanaman yang dirawat mudah layu semangat dan rewelnya setengah mati.
Bahkan di beberapa sekolah, umumnya sekolah non-pemerintah, masih saja ada murid-murid belia yang tak tahu diri, memandang guru dengan picik menggunakan sebelah matanya yang sesunggunya belum sempurna itu. Dianggapnya guru adalah profesi yang sama dengan layaknya para pekerja bayaran. Uang SPP yang telah mereka bayarkan dianggapnya telah cukup mengganti ilmu-ilmu yang telah ditanam oleh guru-gurunya. Dikiranya uang orang tua meraka bisa membalas segala macam budi guru-guru yang telah berperan besar mengalirkan darah-darah kemuliaan ilmu ke dalam otak-otak mereka yang sebelumnya kerdil. Para murid ini mungkin tak pernah paham tentang tangisan lara para petani jiwa dibalik kehebatannya di muka kelas.
Ironi menyakitkan. Inilah zaman kejayaan kaum materialis pemimpi yang telah berhasil merasuki anak-anak didik bangsa ini. Guru hanya dihargai dari lamanya mereka berbicara di kelas, bukan dari panjang, lebar dan tingginya ilmu yang telah mereka hujamkan.
Guru Indonesia adalah profesi yang paling memprihatinkan, karena seringkali apa yang mereka berikan tidak pernah sepadan dengan apa yang mereka dapatkan. Disparitas inilah yang seringkali mengusik nurani guru yang sesungguhnya juga sama-sama manusia. Ingin sekali mereka menjerit dengan kerasnya, tapi percuma saja apabila yang mereka ajak bicara itu buta dan tuli hati.
Jangan biarkan para ‘petani-petani jiwa’ itu mati di ladang-ladang garapannya sendiri, sedangkan yang lain tengah asyik menikmati hasil-hasil panennya….

Ada satu catatanmenarik yang tertinggal di tulisan “Pahamkah siswa Anda? Sebuah Kajian Berdasar Understanding by Design (UbD)” (Teachers Guide V.02 Edisi 05.08, hal.46-47). Dalam fokus penjelasan mengenai 6 tampilan indikator pemahaman siswa,
disebutkan oleh penulis (Najelaa Shihab), bahwa memiliki pemahaman diri yang
terwujud dalam bentuk mampu memperlihatkan kesadaran metakognitif, mampu mengenali dirinya baik kebiasaan baik maupun tidak baik, mampu menyadari ketidaktahuannya sehingga terefleksi dalam proses belajar, merupakan bagian penting yang harus dilatihkan kepada siswa agar mendapatkan pemahaman bermakna.

Metakognitif,
satu kata ini yang menarik perhatian sekaligus menggerakkan penulis untuk
mengkaji mengenai apa itu metakognitif, mengapa metakognitif penting, dan
bagaimana cara menerapkan metakognitif dalam situasi pembelajaran.

Apa itu Metakognitif?

Metacognitionis an important concept in cognitive theory. It consists of two basic processes occurring simultaneously, monitoring your progress as you learn, and making
changes and adapting
your strategies if you perceive you are not doing so
well. (Winn, W. &Snyder, D., 1998) It’s about self-reflection, self-responsibility and
initiative, as well as goal setting and time management.

“Metacognitive skills includetaking conscious control of learning, planning and selecting strategies, monitoring the progress of learning, correcting errors, analyzing the
effectiveness of learning strategies, and changing learning behaviors and
strategies when necessary.” (Ridley, D.S.,Schutz, P.A., Glanz, R.S. & Weinstein, C.E., 1992)

Intinya, metakognitif adalah kesadaran berpikir tentang apa yang diketahui dan apa yang tidak diketahui. Dalam konteks pembelajaran, siswa mengetahui bagaimana untuk belajar, mengetahui kemampuan dan modalitas belajar yang dimiliki, dan mengetahui strategi belajar terbaik untuk belajar efektif.

Strategi Metakognitif untuk Kesuksesan Belajar

Untuk mendapatkan kesuksesan belajar yang luar biasa, guru harus melatih siswa untuk merancang apa yang hendak dipelajari, memantau kemajuan belajar siswa, dan menilai apa yang telah dipelajari. Ada 3 strategi metakognitif yang dapat dikembangkan untuk meraih kesuksesan belajar siswa, diantaranya:


Tahap proses sadar belajar, meliputi proses
untuk menetapkan tujuan belajar, mempertimbangkan sumber belajar yang akan dan dapat diakses (contoh: menggunakan buku teks, mencari buku sumber di perpustakaan, mengakses internet di lab. komputer, atau belajar di tempat sunyi), menentukan bagaimana kinerja terbaik siswa akan dievaluasi, mempertimbangkan tingkat motivasi belajar, menentukan tingkat kesulitan belajar siswa.

Tahap merencanakan belajar, meliputi proses memperkirakan waktu yang
dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas belajar, merencanakan waktu belajar dalam bentuk jadwal serta menentukan skala prioritas dalam belajar, mengorganisasikan materi pelajaran, mengambil langkah-langkah yang sesuai untuk belajar dengan menggunakan berbagai strategi belajar (outlining, mind mapping, speed reading, dan strategi belajar lainnya).

Tahap monitoring dan refleksi belajar, meliputi proses merefleksikan proses belajar, memantau proses belajar melalui pertanyaan dan tes diri (self-testing, seperti mengajukan pertanyaan, apakah materi ini bermakna dan bermanfaat bagi saya?, bagaimana pengetahuan pada materi ini dapat saya kuasai?, mengapa saya mudah/sukar menguasai materi ini?), menjaga konsentrasi dan motivasi tinggi dalam belajar.

Dalam praktik mengajar di kelas, guru direkomendasikan untuk memberikan kesempatan luas kepada siswa untuk saling berdiskusi dan bertukar ide-pengalaman dalam belajar. Harapannya, setiap individu siswa dapat menilai kemampuan diri mereka masing-masing dalam belajar, setiap siswa dapat menentukan kesuksesan belajar dengan menggunakan gaya belajar mereka sendiri, dan yang paling penting, setiap siswa dapat belajar
efektif dengan memberdayakan modalitas belajar dirinya sendiri yang unik dan tak terbandingkan.

Satu lagi yang tidak boleh dilupakan, catat setiap pengalaman belajar yang siswa kerjakan. Siswa perlu dibiasakan membuat jurnal harian dari setiap pengalaman belajar yang dialaminya. Jurnal ini akan sangat membantu siswa dalam menterjemahkan setiap pikiran dan sikap mereka dalam berbagai bentuk (simbol, grafik, gambar, cerita), melihat kembali persepsi awal mereka tentang sesuatu dan membandingkannya dengan keputusan baru yang mereka buat, menjelaskan proses pemikiran mereka tentang strategi dan cara membuat keputusan dalam kegiatan pembelajaran, mereka akan mengenal pasti kelemahan dalam pilihan sikap yang diambil dan mengingat kembali kesulitan dan keberhasilan mereka dalam belajar.

Mengapa Strategi Metakognitif itu Penting?

Ketika siswa mampu merancang, memantau, dan merefleksikan proses belajar mereka secara sadar, pada hakikatnya, mereka akan menjadi lebih percaya diri dan lebih mandiri dalam belajar. Kemandirian belajar merupakan sebuah kepemilikan pribadi bagi siswa untuk meneruskan perjalanan panjang mereka dalam memenuhi kebutuhan intelektual
dan menemukan dunia informasi tak terbatas. Tugas pendidik adalah
menumbuhkembangkan kemampuan metakognitif seluruh siswa sebagai seorang
pembelajar, tanpa kecuali.

Aplikasi Strategi Metakognitif dalam Menghadapi Ujian
Sekolah (Sebuah Contoh Kasus)

Apa yang harus dilakukan siswa ketika mereka akan menghadapi ujian di
sekolahnya? Kecemasan berlebihan yang berujung pada pilihan sikap siswa untuk
melakukan tindakan tidak fair (mencontek) adalah masalah mendasar terkait refleksi
diri, inisiatif dan tanggung jawab diri, perencanaan target diri (goal setting), dan manajemen waktu.

Apa manfaat yang bisa saya dapatkan dari kegiatan ujian sekolah? Apa tujuan
saya mengikuti ujian di sekolah? Apakah hanya sekadar mengikuti ujian dan
mendapatkan nilai sekadarnya pula? Ataukah, saya punya motivasi untuk
mendapatkan nilai terbaik dari usaha terbaik yang dapat dilakukan? Jika jawaban
mendasar telah ditemukan siswa untuk merespon pertanyaan-pertanyaan tadi, maka
pada hakikatnya siswa sudah melakukan proses refleksi diri dan penentuan target
hasil belajar mereka. Inilah langkah awal yang baik untuk meraih keberhasilan
genilang dalam mengikuti ujian sekolah.

Ketika guru menentukan topik tertentu untuk diujikan, maka siswa bertanya
pada diri mereka terkait hal-hal, ”Pengetahuan mana yang telah dan belum saya
kuasai?; Mengapa saya tidak menguasai materi pada topik ini?; Bagaimana cara
saya menguasai topik materi ujian yang belum dikuasai?; Soal-soal seperti apa
yang mungkin akan guru saya ujikan nanti?” Dalam konteks ini, siswa sedang
mengalami proses untuk mengambil inisiatif dalam menilai pemahaman mereka
terhadap topik materi yang akan diujikan. Mereka berinisiatif untuk menyiapkan
diri dalam upaya merealisasikan pencapaian target yang telah mereka ikrarkan.

”Strategi belajar seperti apa yang harus saya pilih agar hasil ujiannya
dapat sesuai harapan?; Apakah saya lebih merasa enjoy belajar dengan
menggunakan teknik menghafal?; Saya merasa lebih dapat memahami materi dengan
cara mind-mapping, apakah cara mind-mapping cukup tepat untuk saya
gunakan pada saat ini dalam menghadapi ujian sekolah?” Pada situasi ini, siswa
memilih strategi belajar terbaik mereka untuk dapat mencapai target dalam
mengikuti ujian sekolah. Semakin tahu mereka akan modalitas belajar mereka,
semakin paham mereka terhadap konsekuensi-konsekuensi dari pilihan strategi
belajar yang mereka putuskan, maka peluang siswa untuk mendapatkan hasil ujian
sesuai harapan mereka akan semakin besar untuk dapat diwujudkan.

Manajemen waktu, masalah mendasar bagi semua orang, tak terkecuali bagi
seorang siswa yang akan menghadapi ujian sekolah. ”Berapa banyak waktu yang
harus saya luangkan untuk mempelajari lebih dalam topik materi yang hendak
diujikan?; Saya merasa lebih menikmati belajar antara jam 4 – 5 pagi, apakah
ini ’jam biologis belajar’ saya?”

Strategi metakognitif menyampaikan satu pesan khusus bagi siapa pun yang
ingin menjalani hidup secara efektif, bahwasanya kenyataan hidup yang terjadi
pada saat ini adalah akibat dari pilihan-pilihan hidup kita di masa lampau.
Hari ini kita jadi orang sukses, hari ini kita jadi orang gagal, bahkan hari
ini sekalipun kita jadi orang bingung dengan kelebihan dan kekurangan diri kita,
maka hal itu diakibatkan oleh lemahnya diri kita dalam merancang kehidupan
kita, memantau kualitas perkembangan kehidupan kita, menilai kesuksesan hidup
kita, serta mengubah sikap hidup kita jika perlu untuk mencapai level kualitas
hidup yang lebih baik. Inspirasi utama ini sebenarnya yang perlu ditanamkan
kepada siswa kita agar menjadi seorang pembelajar mandiri dan pemecah masalah
kehidupan yang handal.(Asep Sapa’at/Trainer Makmal Pendidikan)

Halaman Berikutnya »