Asep Sapa’at

Trainer Pendidikan,

Manajer Program Makmal

Lembaga Pengembangan Insani – Dompet Dhuafa

“A teacher who is attempting to teach without inspiring the pupil with a desire to learn is hammering on cold iron”

–Horace Mann—

Apa yang dimaksud guru? Apakah cukup dapat ‘digugu’ dan ‘ditiru’, maka seseorang dinasbihkan sebagai guru? Perjalanan saya membawakan sesi training guru ke berbagai wilayah di Indonesia menuntun saya menemukan makna terdalam atas istilah ‘guru’.

Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Mbo itu kata UU RI No. 14 Tahun 2005, kalau menurut Anda apa? Jawaban itu saya temukan dari beberapa catatan reflektif guru yang menjadi peserta sesi training guru berikut ini.

“Hari ini saya merasa senang, kesal. Senang karena siswa-siswa sudah banyak yang mampu membaca bahasa arab. Kesal karena siswa-siswa masih ada yang kurang memperhatikan pelajaran, selalu usil terhadap siswa yang lain sehingga mengganggu konsentrasi dalam belajar…”

Perhatikan padanan huruf yang menyusun kata TEACHER, disana ada huruf T–E–A–C–H–E–R. Ungkapan guru di atas dapat saya asosiasikan bahwa TEACHER dapat bermakna E-A-C-H, beberapa susunan huruf yang ada di kata TEACHER. EACH (beberapa) artinya bahwa guru harus berhadapan dengan realita bahwa beberapa siswa berbeda karena mereka unik. Tidak ada satu siswa yang memiliki karakter yang sama atau bahkan persis sama satu dengan lainnya. Ada siswa yang sudah bisa membaca bahasa arab, sebagian lain belum menguasainya. Ada siswa yang lebih senang duduk manis di kursi, tidak sedikit pula yang lebih memilih aktif bergerilya menyusuri seluruh ruangan kelas. Masalah ini dapat diselesaikan jika guru mampu memahami berbagai jenis teori belajar dan karakteristik gaya belajar siswa.

R-E-A-C-T, ya REACT (reaksi). Teacher dapat bermakna pula REACT. Artinya, seorang guru harus dapat memberikan reaksi yang tepat atas setiap sikap yang ditunjukkan siswa di kelas. Mari kita simak refleksi dari dua orang guru berikut ini

“Saya silahkan saja yang main-main, silahkan main. Yang mau belajar, mari belajar!! Akhirnya mereka berhenti sendiri, kemudian mengikuti pelajaran. Rasanya anyep atiku…”

“Ternyata saran Pak Asep dalam pelatihan dulu sangat manjur. Anak-anak sangat senang jika ada yang ramai ditegur dan disapa dengan kata-kata ‘sayang’. Seperti M. Faqih, salah satu siswa saya, dulu dia bandel tetapi sekarang berkurang karena jika bandel aku dekati dan aku panggil/tegur, “Ada apa sayang…”

Luar biasa, menantang, dan hati-hati. Pesan itu saya pikir harus selalu diingat terus oleh Bapak/Ibu guru. Salah merespon tindakan anak dan melakukan reaksi yang salah, jatuhnya kita dapat melakukan malpraktik pendidikan. Contohnya pada kasus M. Faqih, dari gambaran cerita di atas berarti kita dapat mengidentifikasi masalah M. Faqih, yakni pengen dapet perhatian, caper (cari perhatian) githu lho, kata anak muda sekarang. Bukan karena M. Faqih ingin menjadi pengacau di kelas tersebut.

Cari dan pelajari sebanyak mungkin sumber informasi mengenai masalah-masalah yang kerap muncul di kelas, diskusikan dengan rekan sejawat dan kepala sekolah mengenai alternatif solusi yang kita temukan dari sumber informasi, kemudian baru kita mencoba menyelesaikan masalah tersebut dari hasil diskusi dengan rekan sejawat dan kepala sekolah. Lakukan tindakan yang tepat atas setiap masalah yang terjadi di kelas. So, the good teacher can reflect the good react to solve problem in the classroom.

Terakhir, ini sebenarnya makna terdalam yang mesti diungkap dari kata TEACHER. Gordie Howe pernah menyatakan, “Jika Anda tak mencintai pekerjaan Anda, berhentilah, dan berikan kesempatan kepada orang lain yang mencintainya.” Makna ungkapan ini tersirat jelas dari catatan refleksi guru berikut, “Hari ini perasaan nyantai, slow, hati riang, hati bahagia, dan tentunya suasana di kelas jadi bersemangat. Ku merasa, ku sebagai seorang guru jadi berarti, menjelaskan ke siswa, membekali mereka dengan ilmu, dapet pahala, Amin! Di kelas pun, anak-anak ndak terlalu gaduh seperti saban harinya, OK!” Menjadi seorang guru berarti menjalani pekerjaan dengan hati. TEACHER dapat bermakna HEART, H-E-A-R-T.

Jadilah guru yang mampu menginspirasi siswa untuk menjadi diri mereka yang terbaik. Mengajar itu relatif mudah, tetapi mendidik memerlukan kelapangan jiwa dan kesabaran tingkat tinggi untuk mengantar siswa-siswa kita menuju gerbang masa depan yang gemilang.

The Good Teachers Explains, The Mediocre Teachers Demonstrates, and The Great Teachers Inspires. Selamat Menjadi Guru Inspiratif.

GURU TIDAK EFEKTIF

Rina Fatimah
Trainer Makmal Pendidikan

Dalam dunia pendidikan guru memiliki peranan yang strategis diantaranya sebagai pendidik, pengajar, dan sebagai agen of change (agen perubah) bagi para peserta didik. Peranan yang strategis ini menuntut guru untuk memiliki kompetensi yang terintegrasi dengan kepribadiannya. Kepribadian seorang guru memegang peranan penting karena siswa tidak hanya belajar dari apa yang dikatakan guru, mereka juga belajar dari kepribadian yang ditunjukkan oleh guru. Menurut pandangan lama guru adalah sosok manusia yang digugu dan ditiru. Digugu dalam arti segala ucapannya dapat dipercayai. Ditiru berarti segala tingkah lakunya dapat menjadi teladan bagi masyarakat. Hal ini sejalan dengan ungkapan peribahasa yang mengatakan “guru kencing berdiri, siswa kencing berlari”. Peribahasa ini menggambarkan betapa pribadi seorang guru memberikan pengaruh yang besar terhadap siswa.
Kepribadian Guru
Kepribadian guru yang baik mampu memberikan pengaruh baik dalam proses pembelajaran maupun di luar proses pembelajaran. Namun sebaliknya, kepribadian guru yang buruk dapat menghambat proses pembelajaran. Kepribadian guru dapat tercermin dari kebiasaan yang ditampilkannya setiap hari.
1. Sering meninggalkan kelas
Kegiatan guru meninggalkan kelas sudah sering terjadi di lingkungan sekolah. Di awal proses pembelajaran guru menerangkan materi-materi yang akan disampaikan. Lalu 30 menit berikutnya siswa diberi tugas. Namun, di sela-sela waktu siswa sedang mengerjakan tugas tanpa alasan guru meninggalkan siswa hingga jam belajar usai. Kondisi semacam ini masih banyak ditemui di sekolah-sekolah Indonesia. Bahkan, menemukan sebuah kelas dalam keadaan kosong padahal gurunya ada di ruang guru melakukan aktivitas lain seperti membaca koran, mengobrol, bermain catur mudah ditemui. Akibatnya kondisi kelas gaduh, siswa asyik mengobrol dan tugas pun lalai dikerjakan oleh siswa. Di Akhir pertemuan, jika masih ada waktu guru akan membahasnya atau tugas tersebut menjadi PR (Pekerjaan Rumah).
Sebenarnya ketika siswa sedang mengerjakan tugas, siswa membutuhkan kehadiran seorang guru untuk menjelaskan soal-soal yang mungkin tak bisa dimengerti atau sulit diselesaikan. Guru seorang manajer kelas bertugas sebagai pengatur siswanya atau pengendali siswanya. Kelas yang tertib dambaan setiap siswa supaya pembelajaran menjadi efektif.
2. Kurang persiapan dalam pembelajaran
Layaknya seorang manajer, guru harus memiliki perencanaan sebelum melaksanakan proses pembelajaran. Guru yang tidak siap dalam perencanaan pembelajaran akan menghasilkan pembelajaran yang menjenuhkan dan membosankan bagi siswa. Selain itu, guru yang kurang persiapan pembelajaran akan mengalami kesulitan dalam mengendalikan kelas dan kurang menguasai materi yang akan disampaikan. Siswa pada umumnya mampu membaca bahasa tubuh guru yang kurang persiapan.
Pembelajaran Efektif
Pembelajaran efektif merupakan indikator keberhasilan guru dalam mengelola kelas. Guru sebagai manajer kelas memiliki kekuasaan untuk menciptakan pembelajaran dengan melibatkan seluruh siswa secara aktif. Guru berkewajiban memberikan pembelajaran yang berkualitas, sistematis, dan efektif untuk siswanya. Tak lupa pula membangun interaksi positif antara guru dengan siswa. Interaksi positif tersebut berupa pemberian motivasi kepada siswa, dan guru bertindak sebagai problem solver bagi siswa yang memiliki masalah belajar.
Pembelajaran efektif menghasilkan peningkatan kualitas pembelajaran baik dari segi proses maupun hasil. Dari segi proses, siswa terlibat secara aktif baik fisik, mental, maupun social, dan semangat belajar siswa menjadi tinggi. Sedangkan dari segi hasil, proses pembelajaran efektif akan menghasilkan perubahan tingkah laku yang positif pada siswa. Tidak ada pilihan lain bagi guru selain menciptakan pembelajaran yang efektif bagi siswanya. Baik-buruknya kualitas siswa berada di dalam genggaman guru-guru. Bisakah guru-guru Indonesia menghasilkan siswa yang berkualitas baik? Semoga.

STRATEGI PEMBELAJARAN IPA UNTUK SEKOLAH DASAR
Evi Afifah Hurriyati,M.Si
Trainer Makmal Pendidikan

Kecakapan Proses
IPA tidak dapat diajarkan sebagai suatu materi pengetahuan, yang disampaikan dengan metoda ceramah,melainkan melalui pembelajaran siswa aktif. Model pembelajaran penemuan (discovery-inquiry) merupakan pembelajaran siswa aktif, dimana siswa belajar dan berlatih untuk memiliki dan menguasai konsep-konsep dasar sains secara tuntas (mastery learning).
Tujuan pendidikan sains di SD hendaknya lebih menekankan kepada pemilikan kecakapan proses atau kecakapan generik dibandingkan dengan penguasaan konsep, karena kecakapan generik merupakan prasyarat yang harus dimiliki siswa, agar siswa dapat mempelajari bidang studi lainnya sesuai dengan minatnya. Kecakapan generic yang dimiliki siswa SD akan berfunsi menjadi alat bagi mereka untuk menggali konsep-konsep keilmuan yang diminatinya, pada jenjang pendidikan berikutnya
Adapun kecakapan proses yang harus dimiliki siswa adalah :
1. Kecakapan observasi
2. Kecakapan klasifikasi
3. Kecakapan Pengukuran
4. Kecakapan memprediksi
5. Kecakapan inferensi (pengambilan kesimpulan)
6. Kecakapan membuat hipotesa
7. Kecakapan komunikasi
Selain penguasaan konsep dan kecakapan proses yang merupakan keterampilan ilmiah, siswa juga seharusnya memperoleh nilai religius, karena pada dasarnya IPA adalah bagaimana mempelajari ciptaan Allah swt. Rasa keingintahuan untuk mengamati fenomena alam, nilai kejujuran harus melekat pada diri seorang saintis kecil.

Model Inquiry
Ada banyak model pembelajaran sain atau IPA. Diantaranya model inquiry. Pembelajaran IPA berbasis inkuiri dideskripsikan dengan mengajak siswa dalam kegiatan yang akan mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA sebagaimana para saintis mempelajari dunia alamiah.
Trowbridge, et al. (1973) mengajukan tiga tahap pembelajaran berbasis inkuiri. Tahap pertama adalah belajar diskoveri, yaitu guru menyusun masalah dan proses tetapi memberi kesempatan siswa untuk mengidentifikasi hasil alterna-tif. Tahap kedua inkuiri terbimbing (guided inquiry), yaitu guru me-ngajukan masalah dan siswa menentukan penyelesaian dan prosesnya. Tahap ketiga, adalah inkuiri terbuka (open inquiry), yaitu guru hanya memberikan konteks masalah sedangkan siswa mengindentifikasi dan memecahkannya.
Menurut NRC (1996) pembelajaran berbasis inkuiri meliputi kegiatan observasi, mengajukan pertanyaan, memeriksa buku-buku dan sumber-sumber lain untuk melihat informasi yang ada, merencanakan penyelidikan, me-rangkum apa yang sudah diketahui dalam bukti eksperimen, menggunakan alat untuk mengumpulkan, menganalisis dan interpretasi data, mengajukan jawaban, penjelasan, prediksi, serta mengkomunikasikan hasil. Dari pandangan pedagogi, pengajaran IPA berorientasi inkuiri lebih mencerminkan model belajar konstruktivis. Belajar adalah hasil perubahan mental yang terus mene-rus sebagaimana kita membuat makna dari pengalaman kita.
Menurut NSTA & AETS (1998) jantungnya inkuiri adalah kemampuan mengajukan pertanyaan dan mengidentifikasi penyelesaian masalah. Karena itu dalam pembelajaran seharusnya guru lebih banyak mengajukan pertanya-an open ended dan lebih banyak merangsang diskusi antar siswa. Keterampilan bertanya dan mendengarkan secara efektif penting untuk keberhasilan mengajar.
Akhirnya, berbagai model, pendekatan atau strategi apapun dalam pembelajaran, harus disajikan guru dalam kemasan yang menarik sehingga membangun minat siswa untuk belajar. Jika guru,sudah menerapkan 3 prinsip strategi pembelajaran IPA, yaitu memahami konsep ilmiah, keterampilan ilmia dan nilai religius dengan model pembelajaran IPA yang menggugah selera belajar siswa, maka nilai akademis pun insya Allah akan diraih.

Kebersihan Sekolah Tanggung Jawab Siapa?
Rina Fatimah (Trainer Makmal Pendidikan)

Kebersihan sekolah tanggung jawab siapa? Pertanyaan tersebut terlintas dibenak saya ketika Pak Mukiman (salah satu guru di sekolah pandampingan) merasa keberatan jika guru selalu disalahkan terhadap lingkungan sekolah yang kotor. “saya dah capek bu nyuruh anak-anak . Coba aja ibu lihat guru kelas satu setelah anak-anak pulang sekolah, yang sibuk nyapu yah guru-gurunya. Besok pas anak-anak masuk juga dah kotor lagi” jelas Pak Mukiman dengan nada sedikit kesal. Sebenarnya keluhnya ini berawal ketika sekolah Beliau kedatangan tamu. Lalu beliau menceritakan bahwa tiba-tiba saja tamu tersebut menegur guru karena tidak bisa menjaga kebersihan sekolah.
Guru adalah teladan bagi anak-anak. Mau tak mau, guru memiliki peranan penting dalam mewujudkan sekolah yang bersih dan nyaman. Jadi tamu yang datang ke sekolah Pak Mukiman tidaklah salah jika tamu tersebut langsung menegur gurunya. Permasalahan mengatasi lingkungan sekolah yang bersih bukanlah suatu hal yang mudah seperti membalikkan telapak tangan. Namun, jika masalah ini tidak segera diatasi, sekolah akan menjadi sumber penyakit bagi siswa-siswanya.
Di dalam Islam, kebersihan merupakan sebagian dari iman. Kebersihan akan menciptakan keindahan. Setiap manusia pasti menyukai keindahan karena keindahan akan mendatangkan kenyamanan.sekolah yang bersih membuat siswa nyaman belajar. Jadi pada hakikatnya mengatasi kebersihan lingkungan sekolah tidaklah terlalu sulit. Banyak cara yang bisa dilakukan oleh seorang guru namun membutuhkan kesabaran yang ektra dalam mengatasi siswa-siswa yang membandel. Mulai dari guru selalu memberi contoh bila membuang sampah selalu di tempatnya, guru wajib menegur dan menasehati siswa yang membuang sampah sembarangan terutama pada saat siswa-siswi makan dan minum dalam kelas, bungkusnya ditaruh dalam glodok bangku dan mencatat siswa-siswi yang membuang sampah sembarangan pada buku saku/ buku pelanggaran.

Cara lain yang bisa dilakukan yakni mendirikan Bank Sampah. Bank sampah ini bertujuan untuk menampung sampah-sampah yang dikumpulkan oleh siswa dari lingkungan sekolah atau di luar sekolah. Sampah-sampah tersebut dibeli dari para siswa untuk kemudian dijual kembali kepada pengepul . Pengepul yang akan menentukan nilai ekonomis dari sampah-sampah tersebut. Uang yang diperoleh dari pengepul tersebut akan dimasukkan ke dalam tabungan sampah yang dimiliki oleh siswa.
Selain itu, Guru pun bisa menjadikan sampah-sampah tersebut menjadi media pembelajaran atau sumber pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa atau diolah kembali menjadi barang kerajinan yang mempunyai nilai tambah oleh para siswa. Barang ketrampilan tersebut berupa keset, bunga kering, daur ulang kertas dan hiasan dinding. Mari kita ciptakan lingkungan sekolah yang sehat dan bersih.

WAHAI GURU, MENULISLAH!

Asep Sapa’at
Trainer Pendidikan
Lembaga Pengembangan Insani
Dompet Dhuafa

“Setiap tetes tinta seorang penulis adalah darah bagi perubahan peradaban. Kernanya, perhatikanlah bagaimana ujung penamu bergerak”

(M. Fauzil Adhim)

Guru mampu mengajar, itu perkara biasa. Guru mampu menjadi penulis, ini baru luar biasa. Menulis bisa berarti mengenalkan pribadi kita kepada orang lain. Menulis bisa berarti menyampaikan gagasan dan pengalaman kita kepada orang lain. Menulis tiada batas ruang dan waktu. Setidaknya, menulis bisa menyembuhkan diri Anda, itulah jawaban Mas Hernowo (CEO Mizan) ketika ditanya, “Apakah sejak kecil Mas Her sudah bercita-cita menjadi penulis?”. Jawab beliau, “TIDAK. Saya menjadi penulis sejak usia saya melewati 40 tahun. Saya bisa menjadi penulis karena bekerja di Penerbit MIZAN. Dan saya terdorong untuk menulis (bukan ingin menjadi penulis) karena menulis dapat menyembuhkan diri saya”.

Bingung menyeruak, mungkinkah aktivitas menulis dapat menyembuhkan diri? Beberapa hasil kajian dari berbagai penelitian mencoba menjawabnya.

Pertama, James Pennebaker menjelaskan, “Menulis tentang pikiran dan perasaan terdalam tentang trauma yang kita alami menghasilkan suasana hati yang lebih baik, pandangan yang lebih positif, dan kesehatan fisik yang lebih baik”. Lanjutnya, dalam artikelnya yang ditulis untuk American Psychological Society, beliau menyatakan pula, “Dalam menulis atau bercerita tentang topik-topik emosional, juga ditemukan pengaruh-pengaruh yang menguntungkan dalam fungsi imun (kekebalan tubuh) termasuk self-helper pertumbuhan. Perubahan perilaku juga telah ditemukan. Para siswa yang menulis isu-isu emosional menunjukkan perkembangan dalam perkuliahan dan para profesional senior yang dipecat dari pekerjaannya lebih cepat mendapatkan pekerjaan baru setelah menulis”.

Kedua, Dr. Jillian Smith menyatakan bahwa aktivitas menulis dan membaca semua novel (ringan) adalah sebuah katalisator untuk mengubah psikologi, sosial, dan transformasi.

Ketiga, JAMA (Journal of The American Medical Association) menyatakan, “Penelitian telah menunjukkan bahwa menulis tentang pengalaman-pengalaman trauma secara emosi, secara mengejutkan memiliki efek menguntungkan atas gejala-gejala yang dilaporkan, keinginan sehat secara individual”.

Keempat, Kitty Klein, Ph.D. (Peneliti di The Social Cognitive Laboratory, North Carolina State University) mengatakan bahwa menulis tentang pengalaman yang menegangkan bisa mendorong fungsi kekebalan, mengurangi kemungkinan penularan beberapa penyakit infeksi dan mengurangi gejala-gejala yang berhubungan dengan penyakit lain yang menyangkut sistem kekebalan.

Sekarang kita boleh merasa lebih yakin bahwa menulis dapat menyembuhkan diri kita. Untuk lebih yakin dengan kajian itu, mulai menulis adalah pilihan terbaik untuk dilakukan.

Menulis & Profesionalitas Guru

Semua orang, tanpa kecuali, memiliki pengalaman hebat dalam hidup. Masalah yang paling mudah kita tulis adalah apapun yang kita yakini, kita alami, dan kita rasakan.

Manfaat terbesar dari menulis adalah ‘mengikat’ momen-momen mengesankan dalam hidup. Bagi guru, menulis dapat bermanfaat untuk banyak hal. Menulis catatan harian secara konsisten adalah hal yang paling mudah dilakukan. Pengalaman terbaik dan drama hidup menggetirkan menjadi guru dapat ditumpahkan di catatan harian. “Keeping your own teaching journal is one strategy for stimulating reflection and self-evaluation (Elizabeth F. Shores & Cathy Grace, 1998). Tulisan yang terdokumentasikan adalah senjata ampuh bagi proses evaluasi diri. Utamanya, guru dapat bercermin untuk memperbaiki diri lewat catatan harian mengenai pergulatan hidup dan pengalaman mengajar.

Menulis catatan harian adalah jembatan untuk dapat menulis formal. Guru tak dapat mengelak jika dituntut harus dapat menulis karya ilmiah, modul, atau tulisan formal lainnya. Data dari Badan Kepegawaian Nasional (2005) bisa dijadikan gambaran. Guru Golongan IV-A kesulitan naik pangkat karena tidak dapat menulis karya ilmiah sebagai persyaratan kenaikan pangkat.

Menulis catatan harian jelas sangat berbeda dengan menulis formal. Ala bisa karena biasa. Terbiasa menulis catatan harian merupakan modal utama menulis formal. Faktor kebiasaan mencurahkan gagasan, kejujuran bertutur, kebebasan berekspresi, merupakan pengalaman berharga yang akan didapat dari aktivitas menulis catatan harian.

Tak dapat dibayangkan jika setiap guru di Indonesia produktif menulis. Menulis apa saja. Menulis catatan harian, karya ilmiah, bahkan autobiografi mereka sekalipun. Setiap guru dapat belajar satu sama lain lewat gagasan dan pengalaman yang mereka tulis. Masalah satu guru diungkap lewat tulisan dan dipublikasi di berbagai media informasi (buku, koran, majalah, internet, dsb). Guru lain membaca dan punya solusi, solusinya ditulis dan disebar di media informasi. Ada juga guru yang membaca saja, dan mereka juga belajar dari tulisan yang dibacanya. Itulah bagian penting dari proses pengembangan profesionalitas guru yang hakiki, saling belajar untuk menjadi profesional sejati.

Mengubah paradigma membaca dan menulis adalah keharusan. Membaca, berarti menemukan sumber informasi dan inspirasi yang bermakna untuk dapat digunakan dalam menjalankan profesi guru. Menulis, berarti secara jujur dan benar, menyampaikan semua masalah dan pengalaman terbaik selama berkiprah menjadi guru. Dengan tulisan, dunia akan tahu semua masalah yang dihadapi guru. Dengan tulisan, semua akan tahu peran penting guru dalam membangun peradaban dunia. Dengan teriakan, ruangan akan terguncang. Namun, dengan tulisan, dunia yang akan terguncang.

Sekarang, pilihan ada di tangan guru. Menulis sekarang atau tidak sama sekali. Tidak ada hari esok jika tidak dimulai hari ini. Selamat menulis wahai guru…

Kembali Mendisplay

Rina Fatimah
Trainer Makmal Pendidikan

Tahun ajaran baru sudah memasuki bulan ke 2, sudahkah Bapak dan Ibu guru menghias ruang kelasnya dengan display? Dinding dan papan disekitar ruang kelas membutuhkan sentuhan tangan dan ide kreatif dari seorang guru untuk menciptakan ruang kelas yang nyaman dan menyenangkan. Jadikan ruang kelas menjadi begitu menggoda bagi anak-anak sehingga selanjutnya anak-anak akan merasa betah berada di ruang kelas.
Namun, belum semua guru menghias ruang kelasnya untuk menyambut anak-anaknya yang baru saja selesai menikmati liburan akhir semester. Ruang kelas masih terlihat gersang, andaipun ada itupun hanya hiasan biasa yang terbuat dari kertas krep atau kertas origami yang dibentuk menjadi bentuk bunga lalu di ronce. Lalu apa yang seharusnya dilakukan oleh guru untuk membuat kelasnya indah?
Pertama, kesadaran dan keyakinan dari seorang guru bahwa display dapat menciptakan motivasi belajar siswa. Adanya kesadaran dan keyakinan dari guru menjadikan display adalah suatu hal yang wajib untuk dikerjakan dengan hati senang dan ikhlas.
Kedua, guru membuat perencanaan dengan membuat tema display. Misalkan saja diawal bulan tahun ajaran baru, guru membuat display dengan tulisan “welcoming our school” atau “selamat datang teman” lalu dilanjutkan dengan display tambahan. Untuk ruang kelas satu, guru sudah membuat hiasan huruf dan angka di sepanjang dinding ruang kelas atau menggantung dilangit-langit kelas. Jadi siswa kelas 1 sudah merasakan betul bahwa dia bersekolah ditempat formal.
Ketiga, sharing ide dengan partner atau rekan kerja. Salah satu cara untuk memperoleh ide kreatif dengan melakukan brainstorming atau eksplorasi berpikir. Mungkin kita masih sulit untuk memperoleh ide kreatif yang brilian dengan melakukan brainstorming sendiri. Oleh sebab itu biasakan diri untuk melakukan brainstorming dengan teman atau rekan kerja atau sekolah memfasilitasinya dengan membuat pertemuan rutin.
Keempat, tersedianya peralatan dan perlengkapan untuk memudahkan guru dalam mendisplay seperti gunting, lem, cutter, kertas krep, karton manila, kertas origami, dan lain-lain. Peralatan dan perlengkapan display tak perlu yang mahal dan baru. Penggunaan barang bekas seperti kardus, gelas palstik air mineral pun bisa dimanfaatkan.
Selamat mendisplay

Menjadi Guru Kreatif

Rina Fatimah, S.Sos
Trainer Makmal Pendidikan

Menjadi guru merupakan profesi yang mulia namun memiliki tantangan yang besar. Mengapa? Karena kualitas pendidikan di Indonesia saat ini masih dinilai rendah. Hal ini terlihat dari posisi kualitas pendidikan Indonesia berada diperingkat 53 dari 55 negara yang disurvei World Competitiveness Year Book pada tahun 2007. Peran guru sebagai satu-satunya sumber ilmu pengetahuan, kini perlu diubah menjadi fasilitator bagi siswa. Saat ini guru harus mampu mengelola, memfasilitasi siswanya yang memiliki gaya belajar yang berbeda-beda serta kecerdasan yang berbeda dan mampu menciptakan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Metode belajar ceramah yang sampai saat ini masih diandalkan oleh guru harus diganti dengan metode belajar aktif dan belajar kolaboratif atau metode belajar lainnya yang merupakan gagasan atau ide dari guru. Untuk mewujudkannya diperlukan kecerdasan kreatif dari seorang guru.
Dalam buku The Power of Creative Intelligence, yang dikarang oleh Tony Buzan mendefinisikan kecerdasan kreatif adalah kemampuan untuk memunculkan ide-ide baru, menyelesaikan masalah dengan cara yang khas, dan untuk lebih meningkatkan imajinasi, perilaku, dan produktivitas. Kecerdasan kreatif melibatkan sejumlah faktor dimana faktor-faktor tersebut bisa dipelajari dan dikembangkan sehingga dapat meningkatkan kreatifitas. Salah satu faktornya yakni kelancaran dan fleksibilitas. fleksibilitas yakni kemampuan untuk memproduksi berbagai gagasan, kemudian beralih dari satu cara ke cara lain dengan menggunakan berbagai strategi. Cara mencapai fleksibilitas berpikir yakni dengan cara mengubah sudut pandang. Contohnya Maria Montessori melihat bahwa segala sesuatu yang ada di sekolah, dibangun, diajarakan dari sudut pandang orang dewasa, kursi dan mejanya berukuran besar, kasar dan berat, susunannya bersifat kaku dan murid-muridnya harus berperilaku mengikuti peraturan militer, pembelajaran tanpa mengikutsertakan unsur-unsur alam. Intinya Maria Montessori melihat tidak adanya kreativitas dalam belajar pada masa awal 1900-an. Sejak itulah Maria menempatkan dirinya ke dalam benak anak dan menciptakan dunia baru bagi anak. Alhasil, pada masa itu terjadilah perubahan dunia pendidikan anak pada masa itu. Saat ini sudah banyak sekolah-sekolah Maria Montessori di Indonesia. Sekolah Maria Montessori menjadi rujukan bagi sekolah-sekolah lain terutama dalam metode pembelajaran pendidikan anak usia dini. Fleksibilitas berpikir perlu dimiliki oleh seorang guru. Ketika guru menyusun rancangan pembelajaran, guru bisa menempatkan dirinya sebagai seorang siswa dan mulai mencari apa yang dibutuhkan dan diinginkan oleh siswanya.
Sedangkan, kelancaran didefinisikan sebagai kemampuan kecepatan mengeluarkan gagasan baru. Cara efektif mengembangkan kelancaran otak untuk menghasilkan gagasan dengan melakukan latihan brainstorming yakni memunculkan sebanyak mungkin gagasan yang berkaitan dengan suatu masalah tanpa mempertimbangkan semua penilaian baik atau buruk, praktis atau tidak praktis. Latihan brainstorming ini dapat dilakukan secara kelompok. Jadi bagi guru-guru yang merasa kesulitan menemukan gagasan atau ide pembelajaran, bisa melakukan brainstorming bersama untuk mencari ide-ide dahsyat pembelajaran ataupu membuat gagasan spektakular di tahun ajaran baru sehingga siswa tidak bosan dan jenuh dengan metode pembelajaran yang itu-itu saja. Semoga pendidikan Indonesia semakin berkualitas karena hadirnya guru-guru kreatif.

Halaman Berikutnya »